5.06.2009

Tipe-Tipe Teman

Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallambersabda: Seseorang tergantung agama temannya, maka hedaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa dia berteman."
Hadits yang mulia ini, memberikan petunjuk kepada manusia bagaimana dia itu berteman. Anjuran agar seorang muslim memperhatikan pergaulannya kepada manusia yang lain. Karena teman itu, sangat memberikan pengaruh kepada pergaulan seseorang. Seseorang, yang memiliki agama yang bagus atau tidak bagus itu sangat erat hubungannya dengan kepada siapa dia berteman. Jika dia berteman dengan orang yang baik agamanya, niscaya dia juga akan baik agamanya. Sebaliknya, jika dia berteman dengan orang yang memiliki agama yag buruk, maka kemungkinan dia memiliki agama yang buruk itu sangat besar. Hal ini juga telah digambarkan oleh rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dimana Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap.'' (HR Bukhari).
Keterangan-keterangan yang cukup lugas dan jelas dari Rasulullah ini tentu saja memberikan pelajaran yang cukup besar kepada kita untuk selektif dalam memilih atau mencari seorang teman. Sehingga kita akan terhindar dari hal-hal yang buruk akibat pengaruh teman yang buruk dan mendapatkan manfaat dari hasil pertemanan dengan orang yang baik.
Adapun, tipe teman itu ada tiga:
1. Teman seperti udara.
Oksigen, tidak lepas dari kehidupan manusia. Selalu ada entah itu kita butuhkan atau tidak kita butuhkan. Sehingga, dalam setiap langkah kehidupannya, detik atau menit atau jamnya, tidak lepas dari kebutuhan akan udara. Apabila tidak ada udara, maka dia bisa mati. Demikian jugalah dalam berteman. Sebaik-baik teman adalah seorang yang selalu ada dalam keseharian dan setiap langkah-langkah kita entah itu kita butuhkan atau tidak kita butuhkan. Dia selalu menyampaikan kebaikan kepada kita. Dia tidak pernah berhenti untuk mengingatkan kita agar menjauhi kemaksiatan. Dia selalu mengajak kita untuk selalu berada dalam koridor-koridor yang telah ditetapkan oleh Allah. Keberadaanya selalu membawa kebaikan dan manfaat dunia akhirat buat kita sebagaimana udara yang kita hirup selalu kita butuhkan. Jauh darinya juga merupakan sebuah musibah.

2. Teman seperti Obat
Sebagaimana obat, kita butuhkan tatkala kita mendapatkan penyakit. Dia datang tatkala kita membutuhkannya. Jika kita tidak mengkonsumsi obat itu, maka kemungkinan besar penyakit akan parah itu ada. Demikian jugalah teman seperti obat. Dia selalu ada manakala kita membutuhkannya. Keberadaannya disisi membawa kabaikan kepada kita. Teman yang baik adalah tatkala kita meminta nasehat kepadanya maka dia memberikan nasehat itu. Dia menjadi penyejuk jiwa dengan untaian-untaian nasehatnya tatkala kita membutuhkan.

3. Teman seperti Penyakit
Sebagaimana penyakit, penyakit adalah sesuatu yang tidak kita butuhkan. Keberadaannya membawa sengsara. Membuat badan tidak bisa bergerak. Demikian juga tipe teman yang buruk. Dia seperti penyakit. Keberadaannya disekitar membuat kita rusak dan hancur. Tidak ada kebaikan yang dibawanya. Yang ada hanyalah maksiat. Kita berada disisinya, tidak bisa lepas dari maksiat yang dilakukannya. Kitapun dapat terjerumus kepada kemaksiatan yang dibawanya.

Itulah tipe-tipe teman. Tinggal kemudian intropeksi diri, saat ini kepada siapa kita berteman. Orang yang baik atau orang yang buruk. Dan juga kita intropeksi diri tatkala kita berteman, tipe seperti apakah kita didalamnya? Apakah kita seperti udara, seperti obat atau seperti penyakit.


Lupakanlah....! Hari Esok Mustahil kembali

Waktu terus bergulir. Hari-hari kemarin telah terlewatkan. Dan saat kemarin itu, tidak akan mungkin kembali lagi. Masa lalu hanya meninggalkan kenangan. Entah kenangan itu baik, maupun kenangan itu buruk. Yang pasti, setiap orang memiliki masa lalu yang penuh dengan certia. Ada saat dimana kenangan itu indah. Dan ada saat dimana masa lalu terlewatkan dengan kenangan-kenangan suram. Bergembiralah mereka yang melewati masa lalunya dengan baik. Karena mereka telah menuai benih-benih kebaikan yang dahulu mereka semai. Mereka tinggal menikmati buah-buah yang dihasilkan oleh benih yang mereka semaikan. Tidak ada gundah gulana dalam diri mereka. Yang ada adalah senyum yang senantiasa tersungging dibibir mereka. Investasi masa depan telah ada untuk mereka. Roman muka yang bercahaya terlihat tatkala menyaksikan wajah-wajah mereka. Mereka tidak menyesal dengan datangnya hari tua.
Keadaan yang sangat lain diperlihatkan oleh mereka yang santai dimasa mudanya. Mereka meninggalkan sejarah kelabu. Kenangan pahit menjadi cacatan harian sejarah hidup mereka.
Wajah-wajah kusam nampak di roman muka mereka akibat kesedihan yang begitu mendalam. Akibat tidak ada benih yang disemai di kebun yang sangat luas, maka merekapun tidak dapat menuai hasil. Akhirnya, langkah menjadi gontai. Lesu, lemah menjadi bagian dalam keseharian mereka. Kereta telah jauh meninggalkan mereka. Masih dapatkah mereka mengejar kereta itu? Pertanyaan-pertanyaan ini senantiasa membayangi benak mereka. Sehingga mereka menjadi kurus. Inilah penyesalan atas kesia-siaan yang telah mereka lakukan. Akhirnya, apa yang mereka ragukan dimasa lalu kini telah mereka dapatkan. Dan memang, kenyataan yang diragukan oleh yang lemah akal itu, pasti akan datang. Tanpa perduli apakah mereka menginginkannya atau tidak. Dan inipun telah didapatkan oleh mereka yang memanfaatkan waktu dengan sia-sia. menganggur. Tidak ada amal untuk dunia, juga tidak ada amal untuk akhirat.
Maka menjadi sebuah hal yang mesti dilakukan saat dimana masa lalu suram dilewati dengan kesia-siaab adalah memperbaiki diri. Bertaubat kepada Allah karena tidak memanfaatkan dengan baik nikmat-nikmat yang diberikan itu. Dari pada menyesali kenangan buruk itu, mending memperbaiki diri dikala masih bisa berbuat. Memanfaatkan hari-hari yang didapatkan saat ini dengan hal-hal yang baik. Memulai menanam benih disaat ini. Karena selama waktu saat ini masih didapatkan, dan karena paham bahwa saat ini adalah saat dimana berada didalamnya, berarti menjadi milik. Maka apa yang kita miliki disela-sela waktu yang tidak terlalu lama ini jangan diisi dengan mengingat kenangan-kenangan suram dimasa lalu. Cukuplah dia hilang bersama dengan hilangnya sang waktu. Pikirkanlah apa yang mesti dilakukan hari ini dengan menyemai benih kebaikan sebanyak-banyaknya. Juga jangan lupa untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok dengan ilmu. Karena ilmu dapat menjadi penolong atas kelemahan dan kekurangan dihari esok. Duri-duri yang menghalangi dapat terlewatkan dengan ilmu yang baik. Mudah-mudahan kenangan-kenangan buruk itu terlupakan dan diganti dengan kenangan baik yang akan dilewati hari ini. Seperti mereka yang telah menuai benih yang mereka tanam dahulu. Semoga bermanfaat



Jangan Bersandar pada Dinding yang Retak

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah acara gotong royong didepan mesjid Abu Bakar kendari, nampak ada sebatang pohon pisang yang tumbuh pada batang pisang lain yang sudah roboh. Saat itu, saya kemudian mengatakan bahwa pisang ini di cabut saja karena tidak akan bertahan lama tumbuhnya. Dia akan roboh setelah gaya beratnya lebih besar dibandingkan dengan gaya berat sandarannya. Saat itu pula, seorang teman mengatakan jangan dicabut karena dia akan tumbuh. Dengan argumen yang kemudian saya kemukakan bahwa pohon pisang itu tidak akan bertahan lama karena sandarannya lemah, akhirnya pohon pisang itu ditumbangkan (saya tumbangkan). Berhentilah waktu hidupnya pohon pisang itu. Ditangan orang iseng yang hanya mengandalkan teori itu. Padahal, masih ada peluang hidup pohon pisang itu, yakni ditanam ditempat lain.

Apa yang terjadi jika kita bersandar pada dinding yang retak? Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yakni dinding akan roboh dan kita akan jatuh bersama jatuhnya tembok dan bisa jadi kita akan binasa dengan bersamaan dengan robohnya tembok itu. Demikian juga pisang tadi.
Kemungkinan juga yang akan terjadi jika dia tumbuh pada sebatang pohon yang akan hancur, maka buah dari pohon itu tidak akan bisa dinikmati karena di pasti akan roboh bersamaan dengan robohnya tempat sandarannya. (Kita abaikan cara lain. Ini hanyalah sebuah analogi untuk menggambarkan bagaimana jika sesuatu bersandar pada sesuatu yang akan hancur, pasti sesuatu itu akan hancur juga).

Analogi ini kemudian kita miripkan dengan fenomena kehidupan yang terkadang kita alami. Bersandar kepada sesuatu yang sesuatu itu tidak memberikan kontribusi apapun kepada kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Justru yang akan terjadi adalah penyesalan yang lambat laun akan menggerogoti jiwa dan berimbas pada kehancuran masa depan. Mari, kita lihat berbagai fenomena ini dengan kaca mata yang bersih. Dengan pandangan yang jauh lebih teliti dibanding dengan kesenangan sementara yang didapatkan. Bahwasanya, seorang perokok tidak akan bisa bersandar dengan rokoknya dalam menggapai kehidupan gemilang dimasa depan. Seorang pemalas tidak akan mendapatkan nikmatnya berilmu dimasa depan jika sifat malas menjadi sandaran hidupnya. Seorang pembangkang, tidak akan mendapatkan ketenangan jika sifatnya ini dijadikan sebagai sandaran dalam mengambil kesimpulan. Dan yang paling pokok adalah, orang yang bersandar kepada kesyirikan tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan didunia maupun diakhirat. Lambat laun, dia akan hancur secara pelan-pelan seiring dengan hancurnya kesyirikan yang dilakukannya.
Ujung dari sandaran ini adalah harapan. Sehingga kebanyakan manusia akibat hawa nafsunya menyandarkan setiap aktifitasnya kepada si makhluk. Padahal, sandaran manusia, hanyalah kepada Allah. Allah subhanahu wata'ala adalah tempat berharap. Bukan makhluk. Jika manusia menyandarkan kehidupannya kepada makhluk, maka tauhidnya masih sangat lemah. Masih sangat perlu untuk membersihkan diri dari noda-noda kesyirikan.
Jadi, bersandarlah kepada tauhid sebagai pondasi dari kehidupan. Bagaimana mungkin kita akan bisa membangun rumah diatas pondasi yang rusak. Tentu saja rumahnya juga akan cepat hancur.
Begitu sebaliknya, jika pondasi rumah kokoh, maka rumah itu akan bertahan lama.




5.04.2009

Kesabaran itu, Demikian Indah

Sabar, sebuah kata yang singkat namun memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perjalanan kehidupan manusia. Lihatlah, budi pekerti sang kekasih Nabiyyullah Muhammad Shallallahu'alahi wasallam tatkala dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang sangat berat dalam perjalanan beliau dalam mengajarkan risalah islam ini. Beliau dihina, dicaci, dimaki dan dianggap majnun (gila) oleh orang-orang Quraisy saat itu, namun beliau tetap bersabar. Tidak membalas mereka dengan cacian atau makian yang serupa, namun justru yang beliau lakukan adalah senantiasa mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selainNya. Walaupun banyak orang Quraisy membenci apa yang beliau bawa.
Lihat pula kenyataan yang beliau dapatkan ketika mengajarkan risalah islam ini di negeri Thaif. Beliau tidak mendapatkan kenikmatan tatkala beliau disana. Yang terjadi malah sebaliknya.
Beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif sampai darah mengalir ditubuh beliau, namun lagi-lagi beliau tetap sabar dengannya. Rasulullah tidak emosi atau marah kepada mereka. Tidak ada secuilpun rasa dendam dalam jiwa beliau. Bahkan, ketika malaikat penjaga gunung meminta izin kepada beliau untuk menghancurkan Thaif dan penduduknya dengan meletuskan gunung yang ada di thaif, namun beliau justru menginginkan kalau sekiranya anak dan cucu mereka nanti akan menjadi orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala. Padahal, kalau beliau berdo'a kepada Allah niscaya do'anya akan dikabulkan oleh Allah. Namun beliau tetap sabar dengan kenyataan-kenyataan yang menimpanya saat itu.
Demikian pula kesabaran para sahabat dalam menghadapi gangguan dari musuh-musuh islam. Dalam sirah islam demikian banyak disebutkan tentang perjalanan hidup para sahabat rasulullah shallallahu'alahi wasallam yang mana mereka mendapatkan tantangan-tantangan yang begitu besar, namun mereka tetap sabar bersama dengan Rasulullah memperjuangkan islam dimuka bumi. Walaupun musuh-musuh islam tidak pernah berhenti membuat makar untuk menghancurkan mereka. Ternyata, buah kesabaran mereka adalah kejayaan Islam dan kejayaan diri-diri mereka. Islam menguasai lebih dari separoh dunia melalui tangan-tangan dan lisan mereka. Merekapun mendapatkan kejayaan diri-diri mereka dengan mendapatkan Jannah yang telah Allah subhanahu wata'ala janjikan kepada mereka.
Kisah-kisah tentang kesabaran para shalafushalehpun turut menghiasi sejarah. Lihatlah kesabaran mereka dalam menuntut ilmu ad-dien. Mereka demikian sabar dengan pencarian 'ilmu sampai-sampai sebagian dari mereka pingsan ditengah perjalanan dalam menuntut ilmu, bertahan dengan kondisi alam yang sangar, ditengah padang pasir yang luas dibawah terik matahari, mereka terus berjalan untuk mendapatkan ilmu. Ada yang belajar di jalan, mendekati cahaya lampu orang yang ronda, kitab-kitab yang mereka tulis lenyap terbakar, dibawah banjir bah, namun mereka tetap bersabar. Tidak tidur semalaman demi menghafal hadist, dan masih banyak lagi kisah-kisah kesabaran mereka dalam mencari ilmu. Sungguh perjuangan yang begitu berat telah mereka tempuh dan mereka telah memetik buahnya. Imbas dari kesabaran mereka tidak hanya dirasakan oleh mereka sendiri, melainkan manusia sampai hari inipun merasakan nikmatnya hasil kesabaran mereka. Buku-buku karangan mereka yang berjilid-jilid telah sampai kepada kita karena kesabaran mereka dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmunya tersebut.
Kenyataan sejarah yang telah mereka lewati ini membuat kita harus kagum akan kesabaran mereka. Tentunya, konsekuensi dari kekaguman terhadap mereka ini adalah kitapun harus mencontoh mereka dalam menghadapi setiap realita kehidupan yang menuntut kesabaran ini. Rasa heran juga mesti ada melihat kondisi umat yang lemah saat ini. Betapa nilai-nilai kesabaran sangat sedikit sekali tercermin dalam jiwa manusia akhir zaman ini, kecuali yang dirahmati oleh Allah. Akibat kurang sabarnya manusia saat ini, sehingga jalan-jalan pintas diambil untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Sikap tergesa-gesa menjadi pioner dalam melakukan pergerakan-pergerakan untuk meraih hasil. Dan ini banyak juga dilakoni oleh para aktivis dakwah dalam berjuang menegakan kalimatullah dimuka bumi. Hanya dengan ilmu yang sedikit dan dengan modal semangat yang tinggi, sebagian aktivis dakwah mengambil jalan-jalan pintas dalam mendapatkan kader. Karena mereka sadar bahwa banyaknya kader menunjukan kekuatan. Sehinga kadang-kadang cara yang dilakukan tanpa disadari adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Namun kadang juga mereka tidak peduli apakah cara mereka itu halal atau haram, baik atau buruk, membawa maslahat atau mudharat, bernilai ibadah atau tidak. Yang pasti, apa yang menurut akal pikiran baik, maka baik pula hasilnya. Padahal, berjuang dijalan Allah memiliki koridor. Memiliki aturan-aturan. Bukan dengan cara demonstrasi, mencaci pemerintah, terlibat dalam parlemen, sampai kadang terlena dalam parlemen, mengikuti kebiasan masyarakat dengan dalil agar mereka tidak lari dan cara-cara pintas lainnya. Sadarkah bahwa cara-cara yang tidak diridhai oleh Allah dalam memperjuangkan Agamanya tidak akan pernah berhasil? Bagaimana mungkin islam akan jaya dengan jalan yang bertentangan dengan aturan Allah dan Rasulnya? Bukankah cara batil itu mustahil dalam menegakan kalimat Allah? Percaya atau tidak, masa itu pasti akan tiba. Waktu akan menjawabnya. Bukan tipe-tipe seperti ini yang dapat merubah ideologi yang sesat. Agen-agen perubah ideologi harus bisa menerapkan terlebih dahulu ideologi islam yang benar dalam dalam diri dan jiwa mereka.
Yakinlah, ideologi kafir ini tidak bisa dirubah dengan modal semangat doang. Ideologi kafir ini akan lenyap dengan kuatnya nilai-nilai syar'i dalam diri-diri kaum muslimin. Dan nilai-nilai syar'i dapat diketahui dengan baik dan benar manakala setiap orang menunutut ilmu syar'i. Dan mendakwahkan ilmu yang didapatkan tersebut. Kemudian, ketaatan kepada Allah harus senantiasa ditingkatkan serta bersabar dalam menjalankan ketaatan tersebut. Juga menjahkan diri dari maksiat serta bersabar dalam menjauhi maksiat tersebut. Hanya orang yang bersabar dalam menuntut ilmu, beramal, dakwah dan bersabarlah yang dapat merasakan nikmatnya berjuang dijalan Allah. Entah itu dirasakan didunia kenikmatannya atau diakhirat. Waktu jualah yang menjawabnya. Karena Innallaha ma'ashabirin. “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” Bukan bersama orang-orang yang tergesa-gesa. Wallahu'alam bishawab.




Template by : kendhin x-template.blogspot.com