Buku yang saya baca itu adalah Quantum Learning. Buku ini merupakan salah satu buku yang memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai metode-metode yang harus dilakukan dalam proses belajar. Metode yang diajarkan ini adalah metode yang sudah dapat dibuktikan secara langsung sehingga secara nyata. Apa yang disampaikan kepada pembaca buku ini dapat diibaratkan seperti sebuah tutorial yang pembaca dapat langsung mengaplikasikannya. Namun rupanya untuk hal seperti ini tidak semudah membaaikan telapak tangan. Metode-metode yang diajarkan membutuhkan keseriusan dan ketekunan untuk melakukannya. Orang yang tidak memiliki kesabaran yang tinggi akan kesusahan untuk menjalankan tutorial yang disampaikannya.
Diantara isi buku tersebut adalah apa yang biasa dikenal dengan istilah ambak. Apa manfaatnya bagiku?. Sebuah pertanyaan yang mesti dijawab oleh setiap orang yang melakukan aktivitas. Setiap orang yang ingin mencapai kesuksesan dalam memperbaiki jalan kehidupannya. Sebuah pertanyaan yang singkat, namun juga memberikan pengaruh yang besar buat mereka yang memahami akan urgensi pertanyaan ini. Apa manfaatnya bagiku tatkala saya melakukan ini atau itu? Pertanyaan ini jika dipahami dengan benar, maka setiap orang akan melewati hari-harinya dengan manfaat. Karena tatkala dihadapkan pada sebuah aktivitas, jiwa kembali bertanya “Kalau saya kerjakan ini, apakah akan memberikan manfaat bagiku”? “Apakah apa yang saya lakukan ini dapat menjamin kehidupanku lebih baik”? Kalau ia, maka sayapun harus bersemangat untuk mengerjakannya. Karena ada efek kabaikan yang akan didapatkan setelahnya. Namun jika pertanyaan ini rupanya menghasilkan jawaban tidak ada manfaat, maka orang tersebut akan meninggalkan perbuatan tersebut dan menggantikannya dengan sesuatu yang bermanfaat karena dia sadar bahwa tidak ada gunanya mempertahankan perbutan yang ternyata tidak memberikan manfaat. Tidak ada gunanya melewati hari-hari tanpa manfaat yang dihasilkan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Inilah konsekuensi dari pertanyaan Ambak (apa manfaatnya bagiku). Kehati-hatian dalam melakukan sesuatu akan nampak dalam diri mereka. Karena sadar bahwa melakukan sesuatu yang tidak memberi manfaat adalah sebuah kesia-siaan. Sedangkan melakukan sesuatu yang memberikan manfaat adalah sebuah keberuntungan. Hari-harinya terlewati dengan senantiasa bersemangat melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Demikian juga halnya dengan orang yang belajar. Orang yang menerapkan metode AMBAK ini dalam proses belajarnya akan menjadi sadar bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan. Dan belajar merupakan sesuatu yang wajib untuk dilaksanakan karena besarnya manfaat yang didapatkan oleh orang yang belajar. Sehingga dia akan senantiasa bersemangat untuk belajar. Seorang siswa IPS, dihadapkan pada keinginan untuk belajar mata pelajaran IPA. Nah,… Sebelum dia melakukannya, maka dia harus memunculkan pertanyaan dalam dirinya. Apa manfaatnya bagiku belajar IPA? Padahal IPA bukan bagian dari kebutuhan saya. Setelah dirinci sendiri akan manfaat atau tidaknya belajar IPA ini, maka siswa IPS ini kemudian mengambil kesimpulan bahwa daripada saya belajar IPA sementara pelajaran ini tidak muncul dalam ujian mata pelajaran IPS, maka lebih baik belajar akuntansi daripada IPA karena akuntansi merupakan mata pelajaran ujian. Demikian juga siswa IPA yang ingin belajar IPS harus mempertimbangkan akan manfaat atau tidak manfaatnya belajar IPS itu saat ini. Walaupun pelajaran-pelajaran ini semuanya berguna, namun dengan memperhatikan akan kebutuhan-kebutuhan saat ini, maka seorang pelajar yang baik lebih mendahulukan untuk menjalankan aktifitas yang dibutuhkan saat ini ketimbang aktifitas yang dibutuhkan dimasa yang akan datang. Orang yang belajar tidak akan rugi. Kecuali apa yang dipelajarinya adalah sesuatu yang mengarah kepada hal yang buruk. Namun kitapun mesti harus memperhatikan akan kebutuhan akan pelajaran itu disaat ini. Nah… Kalau misalnya kebutuhan saat ini sudah terpenuhi, maka menjalankan aktivitas belajar lain tidak jadi masalah asalkan aktivitas itupun memberikan manfaat baginya.Ini merupakan sebuah contoh sederhana yang menguraikan seputar masalah AMBAK dalam kehidupan anak sekolahan. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita arahkan semisal terkait dengan masalah pertimbangan akan kemanfaatan (maslahat dan mudharat) dalam setiap perjalanan kehidupan setiap manusia.
Ada satu hal yang rupanya saat ini kurang dimiliki oleh kebanyakan orang dinegeri ini. Buktinya adalah banyak orang disekitar kita yang sulit untuk menerima kenyataan yang mereka dapatkan. Ketika mereka mendapatkan masalah yang membuat mereka harus menelan kepahitan dengannya, rupanya banyak yang stress. Sebagian lagi sampai pada tahap gila akibat kepahitan yang mereka dapatkan. Padahal, apa yang mereka lakukan itu adalah bagian dari apa yang telah rencanakan. Bahkan perencanaan yang sangat matang. Kalau tidak matang perencanaan dan pertimbangannya, tentu saja mereka tidak akan berani untuk melakukan apa yang mereka rencanakan itu. Contoh misalnya adalah banyaknya para calon legislatif saat ini yang stress akibat tidak lolos menuju kursi legislatif. Bahkan sampai pada tahap bunuh diri akibat kenyataan pahit yang mereka dapatkan. Bukankah ini akibat dari ketidakpuasan dan ketidak beranian untuk menerima kenyataan yang ada? Maka orang yang seperti ini disebabkan karena apa yang mereka rencanakan dan ingin mereka lakukan tidak mempertimbangkan AMBAK. Kalau sekiranya mereka mempertimbangkan masalah Ambak ini, tentu saja mereka tidak akan sampai pada tahap stress bahkan bunuh diri ini. Ini adalah fenomena yang terjadi ketika tidak ada kesiapan diri untuk menerima kenyataan. Berapa banyak manusia didunia ini yang sangat pusing ketika mendapatkan kenyataan-kenyataan yang tidak baik. Berapa banyak manusia yang bunuh diri karena kenyataan pahit. Di Jepang, demikian banyak orang yang bunuh diri (harakiri) setiap tahun karena ketidaksiapan diri menerima kepahitan hidup. Demikian juga di negeri ini, sudah berapa banyak orang yang bunuh diri akibat kenyataan pahit yang menimpa mereka.

