8.18.2009

Perjalanan Di hari Ahad, 16-8-2009

LANJUTAN

Perjalanan menuju pulau Bokori bukanlah perjalanan yang gampang, disamping harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan jalanan yang rusak dan berlobang, juga harus menyebrangi lautan. Bagi sebagian ikhwan, menyebrangi lautan dengan menggunakan katinting (perahu kecil dengan menggunakan mesin) adalah hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Untuk melakukannya, tentu saja perasaan was-was itu tetap saja ada. Khawatir jangan sampai perahunya terbalik atau tenggelam di tengah lautan. Apalagi jika kondisi laut yang sedang bergelombang. Namun bagi sebagian yang lain, menyeberangi lautan dengan menggunakan perahu adalah hal biasa yang sering dilakukan. 

Perjalanan dari pantai (lupa namanya) sebenarnya cukup singkat. Hanya beberapa menit saja. Namun tentu saja menjadi seperti cukup lama karena harus menunggu sebagian ikhwan untuk berkumpul karena harus beberapa kali diambil oleh perahu yang kami tumpangi. (Tidak muat satu kali perjalanan). Sambil menunggu teman-teman lain nyampe, saya bersama teman-teman bermain bola, sambil mandi. Masya Allah, begitu segar ketika menceburkan diri didalam laut, di pantai yang dipenuhi oleh pasir putih. Subhanallah, Allah maha Indah. Allah menciptakan sesuatu yang indah dimuka bumi untuk menyedapkan pandangan manusia. Manusia yang juga menjadi fitrahnya untuk mencintai keindahan. Dan menyaksikan pantai yang indah, merupakan anugrah tersendiri bagi manusia. 

Sebenarnya, mandi di laut merupakan kebiasaan ketika masih di kampung. Rumah saya dekat pantai. Akan tetapi, tentu saja suasanya berbeda antara mandi dikampung dan di sini (pulau bokori). Kenikmatan yang lebih dibandingkan dengan dikampung. Pasir yang indah, tidak didapatkan dikampung. Yang ada hanyalah batu-batu cadas, juga batu-batu karang yang sudah hampir punah. Selain itu, kenikmatan tersendiri juga diperoleh karena bersama teman-teman yang semanhaj. Saudara-saudara yang senantiasa mengingatkan dikala sedang berada dalam kesia-siaan. Berkumpul bersama ikhwan, memang memberikan kenikmatan tersendiri yang tidak diperoleh pada teman-teman di kampung dan saudara-saudara dirumah.

Teman-teman mempunyai kesibukan yang berbeda dipulau ini. Ada yang memancing ikan, ada yang main bola, ada yang mandi, ada yang memasak dan ada juga yang hanya berdiri menyaksikan ikhwan lain yang sedang asyik menikmati aktivitasnya. Aktivitas yang berbeda ini terus berlangsung sampai masuk waktu zhuhur. Semua aktifitas berhenti tatkala azan berkumandang. Ditengah gemuruh ombak, dalam nuansa yang indah kami melaksanakan shalat dengan keadaan yang berbeda ketika dimasjid. Ada yang memakai sendal, ada yang beralaskan pasir, maksudnya tak beralas, dan ada juga yang masih basah. Namun, bukan basah kuyup. 

Selesai melaksanakan shalat, kami berkumpul bersama untuk merealisasikan tujuan utama dari rihlah ini, yakni konsolidasi pengurus. Banyak hal yang diutarakan oleh Ustadz terkait dengan perkembangan dakwah ini. Kendala-kendala yang dihadapi, serta solusi2 yang harus diambil dalam menyikapi dinamika kelebagaan.

Mudah-mudahan kebersamaan ini terus berlanjut sampai pada ketentuan Allah. Semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit-penyakit yang berbahaya seperti penyakit futur.

Wahai Saudaraku, Uhibbukumfillah. Doakan agar ana tetap istiqomah dalam menjalani hidup ini ditengah arus dan gelombang kehidupan yang berbahaya dan dapat menghanyutkan pelayaran menuju tujuan kehidupan.



0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com