Refleksi Dari Pemantauan saat Pulang Kampung
Sepekan setelah ujian Skripsi, saya memutuskan untuk Pulang Kampung dan Pembukaan Puasa disana setelah sekitar 5 tahun tidak bersama orang tua pada pembukaan puasa. Perjalanan ke kampung saya harus melewati dilewati dengan rute menyeberang lautan. Jadi sebanyak 2 kali melewati lautan ketika ke kampung saya. Dari Kendari ke Raha, menggunakan kapal Cepat Super-Jet dengan waktu tempuh sekitar 3 jam lebih. Biaya tiket cukup mahal, yaknin Rp. 90.000,-. Kemudian Rute Raha-Koholifano menggunakan Kapal Motor Kambo-Kamboi yang perjalanannya ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Sebenarnya, saat ini kampung saya adalah Pola, karena Orang Tua pindah tugas di Pola. Akan tetapi, Koholifano akan terus tetap menjadi kampung saya karena disanalah tempat kelahiran saya.
Karena kepulangan saya adalah hari jum'at, maka perjalanan ke kampung harus menunggu kapal sore. Sekitar pukul 15 kurang, saya menuju ke pelabuhan tempat bersandar kapal Motor Kambo-Kamboi. Angin bertiup cukup kencang dihari itu, namun tidak mengurungkan niat untuk Pulang Kampung.
Sekitar pukul 5.30 Wita, saya sampai di kampung saya, Koholifano. Sebuah pulau kecil yang berbentuk seperti lingkaran dengan diameter sekitar 1 km. Hasil perhitungan manual saya, ketika dulu waktu masih sering ke pulau ini, jumlah keluarga yang menghuninya sekitar 200 lebih KK. Cukup banyak memang penduduknya. Itupun yang masih bertahan disana. Kalau terhitung dengan yang sedang merantau kenegeri orang, cukup banyak. Karena dikelilingi oleh pulau, mayoritas penduduk dikampung ini adalah nelayan. Sebagian lagi ada yang berprofesi sebagai petani. Namun kebanyakan penduduknya lebih memilih mencari penghasilan di negeri orang. Tersebar dimana-mana. Di Pulau Irian, mereka disana berprofesi sebagai nelayan. Di Malaysia, berprofesi sebagai tukang Batu. Di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan daerah2 lain. Biasanya, pada saat Lebaran Idul Fitri kampung ini sangat ramai. Penduduk Asli kampung ini yang bermukim di negeri lain biasanya pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga.
Kapal motor yang saya tumpangi bersandar di bagian Barat pulau. Padahal rumah saya ada di bagian utara. Jaraknya lebih kurang 800-900 meter. Belum diukur soalnya. Hanya sebatas prediksi. Perjalanan menuju rumah kerumah, pasti melewati rumah Nenek (Orang tua Mama). Sebelum sampai kerumah, maka saya dan adik (yang kebetulan dari Pola) singgah di rumah nenek. Kebetulan sang nenek sedang mempersiapkan untuk "di baca-baca" seperti yang biasa dilakukan ketika pembukaan puasa. Menyalami sang Kakek yang sudah sangat tua, kemudian menikmati makanan yang disediakan oleh nenek. Sebiji lapa-lapa dan sepotong ayam. Cukup Nikmat. Setelah selesai makan, dan berbincang-bincang sekilas dengan Paman dan Nenek, saya dan Adik berjalan menuju rumah. Waktu sudah mendakti maghrib ketika sampai dirumah. Sang Mama rupanya telah lama menantikan kedatangan saya. Maka sayapun menyalami sang mama kemudian menanyakan keadaan dirumah. Rupanya, dirumah juga makanan untuk pembukaan puasa.
Kembali ke inti cerita
Pada setiap tahunnya, beberapa pelajar dikampung saya menamatkan pendidikan SMAnya. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Kalaupun ada, paling hany seorang atau 2 orang. Demikian halnya tahun ini. Sempat bertemu dengan sebagian dari mereka. Kenyataan ini membuat meningkatnya angka pengangguran di kampung. Para pelajar yang telah menamatkan pendidikan SMAnya lebih memilih untuk tinggal di kampung atau merantau kenegeri tetangga mencari penghasilan. Tentu saja, sedikitnya jumlah orang sekolahan dikampung ini berimbas kepada berbagai aspek kehidupan. Tatanan sosial kemasyarakatan menjadi kurang bagus.
KAlau dilihat dari kemampuan ekonomi, sebenarnya beberapa orang tua dapat menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi. Akan tetapi, minat untuk terus belajar itu sangat kurang. Jangankan untuk belajar, membaca saja adalah hal yang langka. Tentu saja, kurangnya minat untuk belajar ini menyebabkan merosotnya generasi masa depan. Imbasnya adalah rusaknya tatanan nilai-nilai kehudupan diberbagai bidang. Dari sisi ekonomi, tentu saja akan kurang kreatifitas untuk dapat mendapatkan ide-ide bagaimana mendapatkan penghasilan. Penyakit sosial kemasyarakatan akan muncul bukan hanya dimasa kini tetapi juga dimasa yang akan datang. Ini sebagian sudah nampak.
Melihat kondisi yang lemah dari sisi pendidikan ini, tentu harus dipikirkan solusi bagaimana menumbuhkan minat masyarakat untuk terus belajar. Pihak pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi bahkan pemerintah pusat harus mencarikan solusi agar masyarakat paham akan pentingnya Menuntut ilmu. Dengan ini, peluang untuk menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya belajar akan nampak. Mereka kemungkinan besar tidak menyekolahkan anaknya karena tidak menyadari akan pentingnya. Biasanya, sesuatu yang kita tidak ketahui menjadikan kita tidak perduli dengan dampak yang dihasilkannya. Para pemuda juga harus paham bahwa belajar tidak berakhir sampai dibangku SMA. Harus ada kesadaran dalam jiwa akan pentingnya dan pengaruhnya berilmu. Kalaupun tidak mampu untuk menyadarkan dengan cara seperti ini, paling tidak usaha itu telah dilakukan. Dan usaha untuk melakukan perubahan itu adalah niat yang baik. Dan semoga, apa yang terbetik dalam benak ini kelak dapat memberi guna kepada masyarakat. Semoga ide yang terkubur di benak saya ini bisa terealisasi dalam waktu yang tidak lama lagi. Semoga bisa. Doakan wahai saudaraku, agar aku dapat memberi bakti.


0 komentar:
Posting Komentar