Sabar, sebuah kata yang singkat namun memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perjalanan kehidupan manusia. Lihatlah, budi pekerti sang kekasih Nabiyyullah Muhammad Shallallahu'alahi wasallam tatkala dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang sangat berat dalam perjalanan beliau dalam mengajarkan risalah islam ini. Beliau dihina, dicaci, dimaki dan dianggap majnun (gila) oleh orang-orang Quraisy saat itu, namun beliau tetap bersabar. Tidak membalas mereka dengan cacian atau makian yang serupa, namun justru yang beliau lakukan adalah senantiasa mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selainNya. Walaupun banyak orang Quraisy membenci apa yang beliau bawa.
Lihat pula kenyataan yang beliau dapatkan ketika mengajarkan risalah islam ini di negeri Thaif. Beliau tidak mendapatkan kenikmatan tatkala beliau disana. Yang terjadi malah sebaliknya.
Beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif sampai darah mengalir ditubuh beliau, namun lagi-lagi beliau tetap sabar dengannya. Rasulullah tidak emosi atau marah kepada mereka. Tidak ada secuilpun rasa dendam dalam jiwa beliau. Bahkan, ketika malaikat penjaga gunung meminta izin kepada beliau untuk menghancurkan Thaif dan penduduknya dengan meletuskan gunung yang ada di thaif, namun beliau justru menginginkan kalau sekiranya anak dan cucu mereka nanti akan menjadi orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala. Padahal, kalau beliau berdo'a kepada Allah niscaya do'anya akan dikabulkan oleh Allah. Namun beliau tetap sabar dengan kenyataan-kenyataan yang menimpanya saat itu.
Demikian pula kesabaran para sahabat dalam menghadapi gangguan dari musuh-musuh islam. Dalam sirah islam demikian banyak disebutkan tentang perjalanan hidup para sahabat rasulullah shallallahu'alahi wasallam yang mana mereka mendapatkan tantangan-tantangan yang begitu besar, namun mereka tetap sabar bersama dengan Rasulullah memperjuangkan islam dimuka bumi. Walaupun musuh-musuh islam tidak pernah berhenti membuat makar untuk menghancurkan mereka. Ternyata, buah kesabaran mereka adalah kejayaan Islam dan kejayaan diri-diri mereka. Islam menguasai lebih dari separoh dunia melalui tangan-tangan dan lisan mereka. Merekapun mendapatkan kejayaan diri-diri mereka dengan mendapatkan Jannah yang telah Allah subhanahu wata'ala janjikan kepada mereka.
Kisah-kisah tentang kesabaran para shalafushalehpun turut menghiasi sejarah. Lihatlah kesabaran mereka dalam menuntut ilmu ad-dien. Mereka demikian sabar dengan pencarian 'ilmu sampai-sampai sebagian dari mereka pingsan ditengah perjalanan dalam menuntut ilmu, bertahan dengan kondisi alam yang sangar, ditengah padang pasir yang luas dibawah terik matahari, mereka terus berjalan untuk mendapatkan ilmu. Ada yang belajar di jalan, mendekati cahaya lampu orang yang ronda, kitab-kitab yang mereka tulis lenyap terbakar, dibawah banjir bah, namun mereka tetap bersabar. Tidak tidur semalaman demi menghafal hadist, dan masih banyak lagi kisah-kisah kesabaran mereka dalam mencari ilmu. Sungguh perjuangan yang begitu berat telah mereka tempuh dan mereka telah memetik buahnya. Imbas dari kesabaran mereka tidak hanya dirasakan oleh mereka sendiri, melainkan manusia sampai hari inipun merasakan nikmatnya hasil kesabaran mereka. Buku-buku karangan mereka yang berjilid-jilid telah sampai kepada kita karena kesabaran mereka dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmunya tersebut.
Kenyataan sejarah yang telah mereka lewati ini membuat kita harus kagum akan kesabaran mereka. Tentunya, konsekuensi dari kekaguman terhadap mereka ini adalah kitapun harus mencontoh mereka dalam menghadapi setiap realita kehidupan yang menuntut kesabaran ini. Rasa heran juga mesti ada melihat kondisi umat yang lemah saat ini. Betapa nilai-nilai kesabaran sangat sedikit sekali tercermin dalam jiwa manusia akhir zaman ini, kecuali yang dirahmati oleh Allah. Akibat kurang sabarnya manusia saat ini, sehingga jalan-jalan pintas diambil untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Sikap tergesa-gesa menjadi pioner dalam melakukan pergerakan-pergerakan untuk meraih hasil. Dan ini banyak juga dilakoni oleh para aktivis dakwah dalam berjuang menegakan kalimatullah dimuka bumi. Hanya dengan ilmu yang sedikit dan dengan modal semangat yang tinggi, sebagian aktivis dakwah mengambil jalan-jalan pintas dalam mendapatkan kader. Karena mereka sadar bahwa banyaknya kader menunjukan kekuatan. Sehinga kadang-kadang cara yang dilakukan tanpa disadari adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Namun kadang juga mereka tidak peduli apakah cara mereka itu halal atau haram, baik atau buruk, membawa maslahat atau mudharat, bernilai ibadah atau tidak. Yang pasti, apa yang menurut akal pikiran baik, maka baik pula hasilnya. Padahal, berjuang dijalan Allah memiliki koridor. Memiliki aturan-aturan. Bukan dengan cara demonstrasi, mencaci pemerintah, terlibat dalam parlemen, sampai kadang terlena dalam parlemen, mengikuti kebiasan masyarakat dengan dalil agar mereka tidak lari dan cara-cara pintas lainnya. Sadarkah bahwa cara-cara yang tidak diridhai oleh Allah dalam memperjuangkan Agamanya tidak akan pernah berhasil? Bagaimana mungkin islam akan jaya dengan jalan yang bertentangan dengan aturan Allah dan Rasulnya? Bukankah cara batil itu mustahil dalam menegakan kalimat Allah? Percaya atau tidak, masa itu pasti akan tiba. Waktu akan menjawabnya. Bukan tipe-tipe seperti ini yang dapat merubah ideologi yang sesat. Agen-agen perubah ideologi harus bisa menerapkan terlebih dahulu ideologi islam yang benar dalam dalam diri dan jiwa mereka.
Yakinlah, ideologi kafir ini tidak bisa dirubah dengan modal semangat doang. Ideologi kafir ini akan lenyap dengan kuatnya nilai-nilai syar'i dalam diri-diri kaum muslimin. Dan nilai-nilai syar'i dapat diketahui dengan baik dan benar manakala setiap orang menunutut ilmu syar'i. Dan mendakwahkan ilmu yang didapatkan tersebut. Kemudian, ketaatan kepada Allah harus senantiasa ditingkatkan serta bersabar dalam menjalankan ketaatan tersebut. Juga menjahkan diri dari maksiat serta bersabar dalam menjauhi maksiat tersebut. Hanya orang yang bersabar dalam menuntut ilmu, beramal, dakwah dan bersabarlah yang dapat merasakan nikmatnya berjuang dijalan Allah. Entah itu dirasakan didunia kenikmatannya atau diakhirat. Waktu jualah yang menjawabnya. Karena Innallaha ma'ashabirin. “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” Bukan bersama orang-orang yang tergesa-gesa. Wallahu'alam bishawab.
Garuda OS : Sistem Operasi Lokal untuk Kebangkitan Nasional (TI) Indonesia
5 minggu yang lalu


0 komentar:
Poskan Komentar