5.06.2009

Jangan Bersandar pada Dinding yang Retak

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah acara gotong royong didepan mesjid Abu Bakar kendari, nampak ada sebatang pohon pisang yang tumbuh pada batang pisang lain yang sudah roboh. Saat itu, saya kemudian mengatakan bahwa pisang ini di cabut saja karena tidak akan bertahan lama tumbuhnya. Dia akan roboh setelah gaya beratnya lebih besar dibandingkan dengan gaya berat sandarannya. Saat itu pula, seorang teman mengatakan jangan dicabut karena dia akan tumbuh. Dengan argumen yang kemudian saya kemukakan bahwa pohon pisang itu tidak akan bertahan lama karena sandarannya lemah, akhirnya pohon pisang itu ditumbangkan (saya tumbangkan). Berhentilah waktu hidupnya pohon pisang itu. Ditangan orang iseng yang hanya mengandalkan teori itu. Padahal, masih ada peluang hidup pohon pisang itu, yakni ditanam ditempat lain.

Apa yang terjadi jika kita bersandar pada dinding yang retak? Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yakni dinding akan roboh dan kita akan jatuh bersama jatuhnya tembok dan bisa jadi kita akan binasa dengan bersamaan dengan robohnya tembok itu. Demikian juga pisang tadi.
Kemungkinan juga yang akan terjadi jika dia tumbuh pada sebatang pohon yang akan hancur, maka buah dari pohon itu tidak akan bisa dinikmati karena di pasti akan roboh bersamaan dengan robohnya tempat sandarannya. (Kita abaikan cara lain. Ini hanyalah sebuah analogi untuk menggambarkan bagaimana jika sesuatu bersandar pada sesuatu yang akan hancur, pasti sesuatu itu akan hancur juga).

Analogi ini kemudian kita miripkan dengan fenomena kehidupan yang terkadang kita alami. Bersandar kepada sesuatu yang sesuatu itu tidak memberikan kontribusi apapun kepada kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Justru yang akan terjadi adalah penyesalan yang lambat laun akan menggerogoti jiwa dan berimbas pada kehancuran masa depan. Mari, kita lihat berbagai fenomena ini dengan kaca mata yang bersih. Dengan pandangan yang jauh lebih teliti dibanding dengan kesenangan sementara yang didapatkan. Bahwasanya, seorang perokok tidak akan bisa bersandar dengan rokoknya dalam menggapai kehidupan gemilang dimasa depan. Seorang pemalas tidak akan mendapatkan nikmatnya berilmu dimasa depan jika sifat malas menjadi sandaran hidupnya. Seorang pembangkang, tidak akan mendapatkan ketenangan jika sifatnya ini dijadikan sebagai sandaran dalam mengambil kesimpulan. Dan yang paling pokok adalah, orang yang bersandar kepada kesyirikan tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan didunia maupun diakhirat. Lambat laun, dia akan hancur secara pelan-pelan seiring dengan hancurnya kesyirikan yang dilakukannya.
Ujung dari sandaran ini adalah harapan. Sehingga kebanyakan manusia akibat hawa nafsunya menyandarkan setiap aktifitasnya kepada si makhluk. Padahal, sandaran manusia, hanyalah kepada Allah. Allah subhanahu wata'ala adalah tempat berharap. Bukan makhluk. Jika manusia menyandarkan kehidupannya kepada makhluk, maka tauhidnya masih sangat lemah. Masih sangat perlu untuk membersihkan diri dari noda-noda kesyirikan.
Jadi, bersandarlah kepada tauhid sebagai pondasi dari kehidupan. Bagaimana mungkin kita akan bisa membangun rumah diatas pondasi yang rusak. Tentu saja rumahnya juga akan cepat hancur.
Begitu sebaliknya, jika pondasi rumah kokoh, maka rumah itu akan bertahan lama.




0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com