4.28.2009

Kisah Ashabul Ukhdud

Orang-orang yang bersabar, telah membuktikan keberhasilannya didalam sejarah kehidupan manusia. Sampai-sampai, kesabaran mereka dalam menghadapi gelombang penyiksaan dari orang-orang yang menginginkan agar mereka keluar dari agama Allah di puji oleh Allah dan digambarkan di dalam FirmanNya Al Qur'an. Siksaan demi siksaan mereka dapatkan. Namun mereka tetap bersabar dengannya. Karena keimanan yang teguh kepada Allah telah terpatri dalam jiwa mereka. Diantara kisah itu adalah kisah yang disebutkan dalam Al Qur'an Surat Al Buruj ayat 4-6 tentang Kisah Ash-Shaabul Ukhdud. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak kisah berikut, kisah yang langsung diceritakan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Sahabat Shuhaib radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Ada seorang raja yang hidup pada masa sebelum kalian, dia mempunyai seorang ahli sihir. Ketika usia ahli sihir menginjak masa tua, dia berkata kepada raja.
"Sesungguhnya saya telah memasuki masa tua, maka utuslah salah seorang anak muda kepadaku untuk saya ajarkan kepadanya sihir"
Maka diutuslah seorang anak muda untuk belajar sihir kepadanya. Dan dalam perjalanan menuju rumah ahli sihir, pemuda itu melewati tempat tinggal seorang rahib. Maka diapun duduk ditempat itu untuk mendengarkan pembicaraan sang rahib. Sehingga setiap kali pemuda itu menuju rumah ahli sihir, dia pasti melewati tempat tinggal sang rahib dan dan duduk didalamnya untuk mendengarkan nasehat sang rahib.
Akibatnya, dia terlambat datang ketempat ahli sihir dan mendapatkan hukuman. Maka anak muda itu mengadukan peristiwa yang menimpanya kepada sang rahib. Sang rahib berkata,: “Jika engkau ditanya sebab keterlambatanmu dan takut dipukul tukang sihir, katakan saja padanya, “Aku terlambat karena urusan keluargaku”. Dan jika kamu khawatir dengan keluargamu, maka katakanlah, “Aku terlambat karena belajar dengan tukang sihir”.
Kejadian itu terus berlangsung, sampai suatu hari sang pemuda berhadapan dengan seekor binatang melata besar yang menghalangi jalan manusia. Berkata pemuda itu,:
"Hari ini aku akan mengetahui apakah perintah tukang sihir atau sang rahib yang lebih utama”. Setelah itu ia mengambil batu dan berkata berkata, “Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada tukang sihir maka matikanlah binatang ini, sehingga manusia dapat berjalan kembali”.
Selanjutnya anak muda itu melempar binatang buas dengan menggunakan batu yang dia pegang dan terbunuhlah binatang itu. Kemudian pemuda itu menemui rahib dan menceritakan seluruh peristiwa yang dia alami. Maka berkata sang Rahib :
"Wahai anakku, hari ini engkau telah mendapatkan keutamaan melebihi diriku. Aku telah melihat peristiwa besar yang menimpamu, dan sesungguhnya engkau akan menemui ujian iman. Maka apabila engkau mendapatkan ujian dan siksaan yang berat, maka janganlah engkau sebutkan diriku."
Dikemudian hari, anak muda itu mampu menyembuhkan orang-orang yang mengalami kebutaan sejak lahir dan orang-orang yang mengalami penyakit sopak, serta menyembuhkan semua penyakit yang diderita oleh penduduk. Peristiwa ini didengar oleh salah seorang teman akrab raja. Orang itu mengalami kebutaan dan kemudian mendatangi sang pemuda dan membawa berbagai macam hadiah. Dia berkata kepada sang pemuda:
"Semua hadiah ini akan aku berikan kepadamu, apabila engkau berhasi menyembuhkan penyakitku".
Sang pemuda menjawab:
"Sesungguhnya aku tidak mampu menyembuhkan seorang manusia pun. Akan tetapi Allah sajalah yang memberikan kesembuhan. Maka apabila engkau beriman kepada Allah, aku akan memohon KepadaNya agar memberikan kesembuhan kepadamu."
Selanjutnya, teman akrab raja itupun beriman kepada Allah dan diberikan olehNya kesembuhan. Dan kemudian dia segera menghadap sang raja sebagaimana biasa.
"Siapakah yang mampu menyembuhkan penglihatanmu?" Tanya sang raja.
Orang itu menjawab:
"Rabb Sang Penciptaku yang telah mengembalikan penglihatanku".
"Apakah engkau meyakini ada Rabb Sang Pencipta selain diriku?" Tanya sang raja
Lelaki itu menjawab:
"Rabb penciptaku dan penciptamu adalah Allah saja".
Mendengar jawaban itu, sang raja segera menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sehingga terpaksa orang itu menceritakan perihal anak muda (yang mampu menyembuhkan penyakitnya-red). Sehingga sang pemuda dibawa menghadap sang raja, maka bertanyalah sang raja kepadanya:
"Wahai anakku, apakah kemampuan sihirmu sangat hebat, sehingga engkau mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan menyembuhkan sopak serta penyakit-penyakit lain?"
Anak muda itu berkata:
"Aku tidak mampu memberikan kesembuhan kepada seorangpun, akan tetapi yang memberikan kesembuhan itu hanyalah Allah saja".
Mendengar jawaban itu, sang raja segera menangkap dan terus-menerus menyiksanya sehingga sang pemuda terpaksa menceritakan perihal rahib (yang telah mengajarkan keimanan kepada Allah-red). Maka, didatangkanlah sang rahib dan diperintahkan kepadanya,
“Keluarlah dari agamamu.” Si rahib menolak.
Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua.
Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan dikatakan kepadanya:
“Keluarlah kamu dari keyakinanmu.”
Pemuda itu menolak. sehingga dia diserahkan kepada prajuritnya kemudian berkata kepada mereka:
“Bawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas.”
Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemudapun berdoa:
“Ya Allah, jagalah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendakMu”
Seketika gunung itu bergetar dan merekapun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui sang raja. Raja itu berkata:
“Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda:
“Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata:
“Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.”
Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi:
“Ya Allah, jagalah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendakMu” Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.
Raja itu berkata:
“Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda:
“Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”
Lalu si pemuda melanjutkan:
“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”
Kata si pemuda: “Kau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah busur lalu ucapkanlah: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya niscaya engkau akan dapat membunuhku.”
Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata:
“Bismillahi Rabbil ghulam”,
Kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu dan diapun tewas. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata:
“Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”
Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya:
“Apakah anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).”
Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata:
“Siapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau: ceburkan ke dalamnya).”
Para prajurit pun menjalankan perintah sang Raja. Sehingga terdapat seorang wanita yang digiring di pinggir parit, sedangkan dia menggendong anak yang masih kecil. Ketika sampai diparit, dia merasa ragu untuk menyeburkan diri kedalamnya. Maka tiba-tiba sang anak berkata kepada ibunya:
"Wahai Ibunda, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada diatas keyakinan yang benar.
(Hadits shahih riwayat Imam Muslim. Kitabuz Zuhd war Raqaaiq no: 5327)

Postingan ini saya kutip di www.asysyariah.com dan buku yang berjudul; Setangguh Pribadi Nabi.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com