About Me
- Arbin
- Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia
- Tidak akan pernah tahu, hal yang belum kita tahu manakala kita tidak mau tahu apa yang kita tidak tahu tersebut.
Google Translate
Pesan Anda
My Facebook
Friends
-
Harga Verile Acne Blemish Cream Terbaru7 tahun yang lalu
-
Read Quran in Uthmani Script Online13 tahun yang lalu
-
Kesuksesan13 tahun yang lalu
-
-
Blog Belajar
9.12.2009
Ide Dadakan yang Menggelikkan
Diposting oleh
Arbin
di
22.31
0
komentar
Label: pengalaman, unek-unek Pemikiran
8.31.2009
Fenomena Amplop Ceramah
Bagi para fakir miskin, dibulan ramadhan ini mereka mendapatkan karunia-karunia yang tidak mereka dapatkan diluar bulan ramadhan. Mereka banyak mendapatkan santunan dari para dermawan yang tidak mereka dapatkan diluar bulan ramadhan. Para dermawan pun berlomba-lomba untuk mendermakan harta mereka karena mereka mengetahui keutamaan berderma dibulan ramadhan. Beramai-ramai membantu pembangunan mesjid, memberi makan orang yang berpuasa, membantu para janda, fakir miskin, anak jalanan dan orang-orang yang membutuhkan santunan lainnya. Demikian juga halnya dengan para pencari rejeki. Mereka kemudian menjadikan momen bulan ramadhan ini dengan berjualan kue, es buah, roti, kelapa muda, dan jualan-jualan lain yang dapat menghasilkan uang. Maka benarlah bahwa bulan ramadhan merupakan bulan rahmat seluruhnya.
Diposting oleh
Arbin
di
22.18
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
Minimnya Minat untuk Belajar
Refleksi Dari Pemantauan saat Pulang Kampung
Sepekan setelah ujian Skripsi, saya memutuskan untuk Pulang Kampung dan Pembukaan Puasa disana setelah sekitar 5 tahun tidak bersama orang tua pada pembukaan puasa. Perjalanan ke kampung saya harus melewati dilewati dengan rute menyeberang lautan. Jadi sebanyak 2 kali melewati lautan ketika ke kampung saya. Dari Kendari ke Raha, menggunakan kapal Cepat Super-Jet dengan waktu tempuh sekitar 3 jam lebih. Biaya tiket cukup mahal, yaknin Rp. 90.000,-. Kemudian Rute Raha-Koholifano menggunakan Kapal Motor Kambo-Kamboi yang perjalanannya ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Sebenarnya, saat ini kampung saya adalah Pola, karena Orang Tua pindah tugas di Pola. Akan tetapi, Koholifano akan terus tetap menjadi kampung saya karena disanalah tempat kelahiran saya.
Karena kepulangan saya adalah hari jum'at, maka perjalanan ke kampung harus menunggu kapal sore. Sekitar pukul 15 kurang, saya menuju ke pelabuhan tempat bersandar kapal Motor Kambo-Kamboi. Angin bertiup cukup kencang dihari itu, namun tidak mengurungkan niat untuk Pulang Kampung.
Sekitar pukul 5.30 Wita, saya sampai di kampung saya, Koholifano. Sebuah pulau kecil yang berbentuk seperti lingkaran dengan diameter sekitar 1 km. Hasil perhitungan manual saya, ketika dulu waktu masih sering ke pulau ini, jumlah keluarga yang menghuninya sekitar 200 lebih KK. Cukup banyak memang penduduknya. Itupun yang masih bertahan disana. Kalau terhitung dengan yang sedang merantau kenegeri orang, cukup banyak. Karena dikelilingi oleh pulau, mayoritas penduduk dikampung ini adalah nelayan. Sebagian lagi ada yang berprofesi sebagai petani. Namun kebanyakan penduduknya lebih memilih mencari penghasilan di negeri orang. Tersebar dimana-mana. Di Pulau Irian, mereka disana berprofesi sebagai nelayan. Di Malaysia, berprofesi sebagai tukang Batu. Di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan daerah2 lain. Biasanya, pada saat Lebaran Idul Fitri kampung ini sangat ramai. Penduduk Asli kampung ini yang bermukim di negeri lain biasanya pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga.
Kapal motor yang saya tumpangi bersandar di bagian Barat pulau. Padahal rumah saya ada di bagian utara. Jaraknya lebih kurang 800-900 meter. Belum diukur soalnya. Hanya sebatas prediksi. Perjalanan menuju rumah kerumah, pasti melewati rumah Nenek (Orang tua Mama). Sebelum sampai kerumah, maka saya dan adik (yang kebetulan dari Pola) singgah di rumah nenek. Kebetulan sang nenek sedang mempersiapkan untuk "di baca-baca" seperti yang biasa dilakukan ketika pembukaan puasa. Menyalami sang Kakek yang sudah sangat tua, kemudian menikmati makanan yang disediakan oleh nenek. Sebiji lapa-lapa dan sepotong ayam. Cukup Nikmat. Setelah selesai makan, dan berbincang-bincang sekilas dengan Paman dan Nenek, saya dan Adik berjalan menuju rumah. Waktu sudah mendakti maghrib ketika sampai dirumah. Sang Mama rupanya telah lama menantikan kedatangan saya. Maka sayapun menyalami sang mama kemudian menanyakan keadaan dirumah. Rupanya, dirumah juga makanan untuk pembukaan puasa.
Kembali ke inti cerita
Pada setiap tahunnya, beberapa pelajar dikampung saya menamatkan pendidikan SMAnya. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Kalaupun ada, paling hany seorang atau 2 orang. Demikian halnya tahun ini. Sempat bertemu dengan sebagian dari mereka. Kenyataan ini membuat meningkatnya angka pengangguran di kampung. Para pelajar yang telah menamatkan pendidikan SMAnya lebih memilih untuk tinggal di kampung atau merantau kenegeri tetangga mencari penghasilan. Tentu saja, sedikitnya jumlah orang sekolahan dikampung ini berimbas kepada berbagai aspek kehidupan. Tatanan sosial kemasyarakatan menjadi kurang bagus.
KAlau dilihat dari kemampuan ekonomi, sebenarnya beberapa orang tua dapat menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi. Akan tetapi, minat untuk terus belajar itu sangat kurang. Jangankan untuk belajar, membaca saja adalah hal yang langka. Tentu saja, kurangnya minat untuk belajar ini menyebabkan merosotnya generasi masa depan. Imbasnya adalah rusaknya tatanan nilai-nilai kehudupan diberbagai bidang. Dari sisi ekonomi, tentu saja akan kurang kreatifitas untuk dapat mendapatkan ide-ide bagaimana mendapatkan penghasilan. Penyakit sosial kemasyarakatan akan muncul bukan hanya dimasa kini tetapi juga dimasa yang akan datang. Ini sebagian sudah nampak.
Melihat kondisi yang lemah dari sisi pendidikan ini, tentu harus dipikirkan solusi bagaimana menumbuhkan minat masyarakat untuk terus belajar. Pihak pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi bahkan pemerintah pusat harus mencarikan solusi agar masyarakat paham akan pentingnya Menuntut ilmu. Dengan ini, peluang untuk menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya belajar akan nampak. Mereka kemungkinan besar tidak menyekolahkan anaknya karena tidak menyadari akan pentingnya. Biasanya, sesuatu yang kita tidak ketahui menjadikan kita tidak perduli dengan dampak yang dihasilkannya. Para pemuda juga harus paham bahwa belajar tidak berakhir sampai dibangku SMA. Harus ada kesadaran dalam jiwa akan pentingnya dan pengaruhnya berilmu. Kalaupun tidak mampu untuk menyadarkan dengan cara seperti ini, paling tidak usaha itu telah dilakukan. Dan usaha untuk melakukan perubahan itu adalah niat yang baik. Dan semoga, apa yang terbetik dalam benak ini kelak dapat memberi guna kepada masyarakat. Semoga ide yang terkubur di benak saya ini bisa terealisasi dalam waktu yang tidak lama lagi. Semoga bisa. Doakan wahai saudaraku, agar aku dapat memberi bakti.
Diposting oleh
Arbin
di
01.09
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
8.18.2009
Perjalanan Di hari Ahad, 16-8-2009
LANJUTAN
Perjalanan menuju pulau Bokori bukanlah perjalanan yang gampang, disamping harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan jalanan yang rusak dan berlobang, juga harus menyebrangi lautan. Bagi sebagian ikhwan, menyebrangi lautan dengan menggunakan katinting (perahu kecil dengan menggunakan mesin) adalah hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Untuk melakukannya, tentu saja perasaan was-was itu tetap saja ada. Khawatir jangan sampai perahunya terbalik atau tenggelam di tengah lautan. Apalagi jika kondisi laut yang sedang bergelombang. Namun bagi sebagian yang lain, menyeberangi lautan dengan menggunakan perahu adalah hal biasa yang sering dilakukan.
Perjalanan dari pantai (lupa namanya) sebenarnya cukup singkat. Hanya beberapa menit saja. Namun tentu saja menjadi seperti cukup lama karena harus menunggu sebagian ikhwan untuk berkumpul karena harus beberapa kali diambil oleh perahu yang kami tumpangi. (Tidak muat satu kali perjalanan). Sambil menunggu teman-teman lain nyampe, saya bersama teman-teman bermain bola, sambil mandi. Masya Allah, begitu segar ketika menceburkan diri didalam laut, di pantai yang dipenuhi oleh pasir putih. Subhanallah, Allah maha Indah. Allah menciptakan sesuatu yang indah dimuka bumi untuk menyedapkan pandangan manusia. Manusia yang juga menjadi fitrahnya untuk mencintai keindahan. Dan menyaksikan pantai yang indah, merupakan anugrah tersendiri bagi manusia.
Sebenarnya, mandi di laut merupakan kebiasaan ketika masih di kampung. Rumah saya dekat pantai. Akan tetapi, tentu saja suasanya berbeda antara mandi dikampung dan di sini (pulau bokori). Kenikmatan yang lebih dibandingkan dengan dikampung. Pasir yang indah, tidak didapatkan dikampung. Yang ada hanyalah batu-batu cadas, juga batu-batu karang yang sudah hampir punah. Selain itu, kenikmatan tersendiri juga diperoleh karena bersama teman-teman yang semanhaj. Saudara-saudara yang senantiasa mengingatkan dikala sedang berada dalam kesia-siaan. Berkumpul bersama ikhwan, memang memberikan kenikmatan tersendiri yang tidak diperoleh pada teman-teman di kampung dan saudara-saudara dirumah.
Teman-teman mempunyai kesibukan yang berbeda dipulau ini. Ada yang memancing ikan, ada yang main bola, ada yang mandi, ada yang memasak dan ada juga yang hanya berdiri menyaksikan ikhwan lain yang sedang asyik menikmati aktivitasnya. Aktivitas yang berbeda ini terus berlangsung sampai masuk waktu zhuhur. Semua aktifitas berhenti tatkala azan berkumandang. Ditengah gemuruh ombak, dalam nuansa yang indah kami melaksanakan shalat dengan keadaan yang berbeda ketika dimasjid. Ada yang memakai sendal, ada yang beralaskan pasir, maksudnya tak beralas, dan ada juga yang masih basah. Namun, bukan basah kuyup.
Selesai melaksanakan shalat, kami berkumpul bersama untuk merealisasikan tujuan utama dari rihlah ini, yakni konsolidasi pengurus. Banyak hal yang diutarakan oleh Ustadz terkait dengan perkembangan dakwah ini. Kendala-kendala yang dihadapi, serta solusi2 yang harus diambil dalam menyikapi dinamika kelebagaan.
Mudah-mudahan kebersamaan ini terus berlanjut sampai pada ketentuan Allah. Semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit-penyakit yang berbahaya seperti penyakit futur.
Wahai Saudaraku, Uhibbukumfillah. Doakan agar ana tetap istiqomah dalam menjalani hidup ini ditengah arus dan gelombang kehidupan yang berbahaya dan dapat menghanyutkan pelayaran menuju tujuan kehidupan.
Diposting oleh
Arbin
di
14.51
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
8.17.2009
Perjalanan di hari Ahad
Ahad, 16 Agustus 2009
Kembali, pagi mulai datang. Membangunkan manusia untuk beraktivitas seperti biasanya. Manusia kembali dituntut untuk mengikuti alur perjalanan hari. Entah hari itu terlewatkan dengan santai, dengan serius maupun dengan biasa-biasa saja. Yang pasti, pagi telah datang dan pagi hari ini pasti tidak sama dengan pagi kemarin. Begitulah hari-hari berganti.
Suasana pagi di kota kendari, terutama di sekitar kampus cukup cerah. Sinar matahari pagi yang biasa menemani perjalanan dipagi hari, yang biasa memancarkan cahayanya dipagi hari, yang kadang disambut dengan ceria cahayanya oleh mereka yang aktivitas hari-harinya sebagai pedagang, sebagai siswa maupun mahasiswa, bahkan sebagian para pegawai kantoran karena mereka tidak akan kehujanan menuju lokasi mereka melaksanakan kewajibannya terhalang oleh awan kumulus. Karena hari ini adalah hari libur, maka aktivitas sebagian orangpun menjadi tidak sesibuk hari biasanya. Para pegawai kantoran tidak lagi menuju kantor untuk melaksanakan tugasnya, para mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah semester pendek tentu saja tidak kekampus, terlebih lagi para pelajar SD, SMP dan SMA. Hari libur adalah hari yang menyenangkan buat kaum pelajar. Dimana mereka mulai pagi sampai sore bahkan malam hari bisa berkumpul ria bersama teman-teman, terlebih lagi bersama keluarga. Namun, pagi ini adalah hari yang beda dengan kami, yang tergabung dengan Ormas. Karena hari ini ada rencana rihlah (rekreasi) yang dirangkaikan dengan konsolidasi pengurus. Kebanyakan dari pengurus pasti pagi ini dilewati dengan mempersiapkan hal-hal yang perlu dibawah ditempat rekreasi, yang Loaksinya cukup jauh dari Kota Kendari.
Hal yang sama, tentu saja terjadi pada saya. Seusai sarapan pagi, saya pamit sama saudara bahwa hari ini saya akan pergi rekreasi bersama teman-teman di sebuah pulau yang bernama BOKORI. Melangkahkan kaki, melewati rumah-rumah bagus nan indah disekitar BTN tempat saya tinggal ditemani dengan bayang-bayang pemikiran yang senantiasa menemani langkah kaki walau terkadang pemikiran itu aneh, namun semua bermula dari inspirasi-inspirasi tak bermutu. Mungkin. Entahlah, kadang otak ini senantiasa berpikir tentang hal-hal aneh yang mungkin belum pernah dipikirkan orang lain. Kadang-kadang pemikiran itu benar setelah ditimbang dengan akal sehat yang jitu dan kadang pemikiran itu salah ketika dilakukan dengan terburu-buru. Walau sekali lagi, relatif. Namun tak apalah. Yang pasti saya bukanlah tipe orang yang membiarkan pemikiran ini kaku.
Kembali kealur cerita....!
Jarak antara rumah dengan Markas, tempat start menuju lokasi sekitar 1,5 km. Memilih berjalan kaki karena suasana pagi adalah suasana yang indah untuk berolahraga. Walaupun perjalanan pagi saya tidak bisa dikatakan olahraga, namun itu sudah cukup bagi saya untuk menghilangkan rasa ngantuk yang masih menyerang dipagi hari karena malam harinya tidur sekitar pukul 2 dini hari. Sekitar beberapa puluh meter kaki melangkah, rupanya ada seorang ikhwah yang berhenti disamping saya dan mengajak untuk bonceng dikendaraanya. Dengan senang hati, kuterima tawaran itu. Beberapa menit kemudian, sampailah saya di tempat dimana start menuju lokasi berada. Rupanya, baru beberapa ikhwan yang datang. Dan Alhamdulillah, saya tidak terlambat. Beberapa aktivitas berlangsung sebelum perjalanan dimulai. Mulai dari kembali ke kamar lama untuk mengambil pakaian mandi, membeli roti dan minuman untuk bekal serta hal-hal lain yang tidak terlalu penting untuk di muat dipostingan ini.
Sekitar pukul 07.40, mobil Kijang yang saya tumpangi mulai berjalan perlahan-lahan. Ditemani dengan deru-deru kendaraan lain yang lalu lalang menjalankan aktivitasnya.
Bersambung...
Diposting oleh
Arbin
di
02.05
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
7.11.2009
Sederhana belum Tentu Menurut Semua Orang
Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan informasi bahwa Pelatihan sepertinya akan diundur karena peserta masih sangat sedikit. Apalagi rencana kegiatan itu adalah sehari setelah Pemilihan Presiden RI. Tentu saja, akan sangat sulit untuk mendapatkan peserta sesuai dengan yang ditargetkan.
Mendengar informasi ini, akhirnya jadwal pembuatan handoutpun menjadi tertunda. Sibuk dengan aktivitas lain walau aktifitas itu sederhana. Padahal, informasi lain yang saya peroleh dari panitia bahwa handout paling tidak masuk kepanitia untuk di perbanyak adalah dua hari sebelum acara dimulai. Karena saya tidak mendapatkan kejelasan waktu dari panitia, maka saya belum membuat materi itu. Namun karena sebuah tuntunan, maka materi itu dibuat 2 hari sebelum acara dimulai.
Rupanya, panitia memiliki cara tersendiri untuk menggaet peserta. Alhasil, peserta kegiatan pelatihan itu sekitar 40 orang lebih. Sehari sebelum acara dimulai, saya mendapatkan pesan singkat dari panitia (SMS) bahwa mereka akan bertemu dengan pada malam hari. Saya tidak menjawab pesan itu karena saya tidak memiliki pulsa. Sore harinya saya menuju ke kampus karena ada seorang teman yang meminta tolong untuk dibuatkan sebuah web sederhana dengan menggunakan software eXe. Dan ternyata, anggapan saya tentang web yang sangat sederhana itu merupakan sebuah kesalahan karena sesederhana apapun itu, jika tidak dibuat tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan ini berarti teman tidak akan mendapatkan nilai ujian final.
Malam harinya, saya bertemu dengan panitia. Setelah mendapatkan laporan kenyataan yang ada beberapa saat, panitia mengatakan bahwa untuk kami (dari kalangan mahasiswa dan senior) yang mendapatkan materi dijadwal sebelumnya akan dijadikan sebagai pendamping. Mendampingi materi dari Bapak dan Ibu Dosen yang tentu saja sudah bergelar Master dan bahkan ada seorang Doktor. Menanggapi masalah ini, maka saya mengatakan jikalau itu kenyataanya, maka tak apa-apa. Cerita tentang materipun berlanjut sampai pada sebuah informasi bahwa panitia belum mengkonfirmasi salah seorang pemateri tentang kesediaanya. Kebetulan, materinya sama dengan materi saya sebelumnya. Panitia mengatakan, jikalau pemateri tidak bersedia, maka antum (saya) sebagai penggantinya. Malam itu, kami mencoba menghubungi pemateri dan ternyata beliau sedang berada dikampung. Akhirnya, kesimpulan yang ada bahwa materi untuk microsoft Word adalah saya.
Pada malam harinya, tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan karena ketika sampai dirumah ternyata Laptop kesayangan sedang dibawa oleh sang adik ke kamar temannya. Tapi tak masalah karena materi yang akan diajarkan sudah sering dilakukan. Rencana untuk cepat tidur karena lelah rupanya tidak jadi karena bercerita lewat SMS dengan seorang teman sampai pukul 1 malam. Lumayan, sampe larut.
Esok harinya, pikiran ini sudah mulai terganggu karena pemikiran akan sederhananya materi yang akan saya sampaikan. Apakah materi ini merupakan materi yang baru buat peserta ataukah mereka sudah terbiasa melakukannya? lantas bagaimana kira-kira jadinya ketika ternyata peserta lebih banyak tahu tentang materi dan akan mengatakan kalau pematerinya tidak berbobot?.
Sekitar pukul 09.30, materipun dimulai. Materi-materi yang kami buat adalah materi yang sangat sederhana karena bagi mereka yang telah lama bergaul dengan komputer bukanlah sesuatu yang asing. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi bukanlah seperti apa yang pernah saya bayangkan. Betapa tidak, ternyata masih banyak diantara peserta yang masih harus benar-benar diarahkan karena mereka tidak mengetahuinya. Sampai beberapa saat lamanya, ternyata mereka benar-benar harus bertanya tentang apa yang harus dilakukan walaupun sudah cukup dijelaskan materinya dengan jelas. Sampai materi berakhir, pertanyaan-pertanyaan itu terus berlanjut.
Ternyata, banyak hal yang dianggap sederhana belum tentu itu adalah sesuatu yang sederhana karena anggapan sederhana menurut seseorang belum tentu itu adalah hal yang sederhana menurut orang lain.
Diposting oleh
Arbin
di
00.47
0
komentar
Label: Pemikiran
5.06.2009
Tipe-Tipe Teman
Hadits yang mulia ini, memberikan petunjuk kepada manusia bagaimana dia itu berteman. Anjuran agar seorang muslim memperhatikan pergaulannya kepada manusia yang lain. Karena teman itu, sangat memberikan pengaruh kepada pergaulan seseorang. Seseorang, yang memiliki agama yang bagus atau tidak bagus itu sangat erat hubungannya dengan kepada siapa dia berteman. Jika dia berteman dengan orang yang baik agamanya, niscaya dia juga akan baik agamanya. Sebaliknya, jika dia berteman dengan orang yang memiliki agama yag buruk, maka kemungkinan dia memiliki agama yang buruk itu sangat besar. Hal ini juga telah digambarkan oleh rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dimana Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap.'' (HR Bukhari).
Keterangan-keterangan yang cukup lugas dan jelas dari Rasulullah ini tentu saja memberikan pelajaran yang cukup besar kepada kita untuk selektif dalam memilih atau mencari seorang teman. Sehingga kita akan terhindar dari hal-hal yang buruk akibat pengaruh teman yang buruk dan mendapatkan manfaat dari hasil pertemanan dengan orang yang baik.
Adapun, tipe teman itu ada tiga:
1. Teman seperti udara.
Oksigen, tidak lepas dari kehidupan manusia. Selalu ada entah itu kita butuhkan atau tidak kita butuhkan. Sehingga, dalam setiap langkah kehidupannya, detik atau menit atau jamnya, tidak lepas dari kebutuhan akan udara. Apabila tidak ada udara, maka dia bisa mati. Demikian jugalah dalam berteman. Sebaik-baik teman adalah seorang yang selalu ada dalam keseharian dan setiap langkah-langkah kita entah itu kita butuhkan atau tidak kita butuhkan. Dia selalu menyampaikan kebaikan kepada kita. Dia tidak pernah berhenti untuk mengingatkan kita agar menjauhi kemaksiatan. Dia selalu mengajak kita untuk selalu berada dalam koridor-koridor yang telah ditetapkan oleh Allah. Keberadaanya selalu membawa kebaikan dan manfaat dunia akhirat buat kita sebagaimana udara yang kita hirup selalu kita butuhkan. Jauh darinya juga merupakan sebuah musibah.
2. Teman seperti Obat
Sebagaimana obat, kita butuhkan tatkala kita mendapatkan penyakit. Dia datang tatkala kita membutuhkannya. Jika kita tidak mengkonsumsi obat itu, maka kemungkinan besar penyakit akan parah itu ada. Demikian jugalah teman seperti obat. Dia selalu ada manakala kita membutuhkannya. Keberadaannya disisi membawa kabaikan kepada kita. Teman yang baik adalah tatkala kita meminta nasehat kepadanya maka dia memberikan nasehat itu. Dia menjadi penyejuk jiwa dengan untaian-untaian nasehatnya tatkala kita membutuhkan.
3. Teman seperti Penyakit
Sebagaimana penyakit, penyakit adalah sesuatu yang tidak kita butuhkan. Keberadaannya membawa sengsara. Membuat badan tidak bisa bergerak. Demikian juga tipe teman yang buruk. Dia seperti penyakit. Keberadaannya disekitar membuat kita rusak dan hancur. Tidak ada kebaikan yang dibawanya. Yang ada hanyalah maksiat. Kita berada disisinya, tidak bisa lepas dari maksiat yang dilakukannya. Kitapun dapat terjerumus kepada kemaksiatan yang dibawanya.
Itulah tipe-tipe teman. Tinggal kemudian intropeksi diri, saat ini kepada siapa kita berteman. Orang yang baik atau orang yang buruk. Dan juga kita intropeksi diri tatkala kita berteman, tipe seperti apakah kita didalamnya? Apakah kita seperti udara, seperti obat atau seperti penyakit.
Diposting oleh
Arbin
di
23.47
0
komentar
Label: Kata Hati
Lupakanlah....! Hari Esok Mustahil kembali
Keadaan yang sangat lain diperlihatkan oleh mereka yang santai dimasa mudanya. Mereka meninggalkan sejarah kelabu. Kenangan pahit menjadi cacatan harian sejarah hidup mereka.
Wajah-wajah kusam nampak di roman muka mereka akibat kesedihan yang begitu mendalam. Akibat tidak ada benih yang disemai di kebun yang sangat luas, maka merekapun tidak dapat menuai hasil. Akhirnya, langkah menjadi gontai. Lesu, lemah menjadi bagian dalam keseharian mereka. Kereta telah jauh meninggalkan mereka. Masih dapatkah mereka mengejar kereta itu? Pertanyaan-pertanyaan ini senantiasa membayangi benak mereka. Sehingga mereka menjadi kurus. Inilah penyesalan atas kesia-siaan yang telah mereka lakukan. Akhirnya, apa yang mereka ragukan dimasa lalu kini telah mereka dapatkan. Dan memang, kenyataan yang diragukan oleh yang lemah akal itu, pasti akan datang. Tanpa perduli apakah mereka menginginkannya atau tidak. Dan inipun telah didapatkan oleh mereka yang memanfaatkan waktu dengan sia-sia. menganggur. Tidak ada amal untuk dunia, juga tidak ada amal untuk akhirat.
Maka menjadi sebuah hal yang mesti dilakukan saat dimana masa lalu suram dilewati dengan kesia-siaab adalah memperbaiki diri. Bertaubat kepada Allah karena tidak memanfaatkan dengan baik nikmat-nikmat yang diberikan itu. Dari pada menyesali kenangan buruk itu, mending memperbaiki diri dikala masih bisa berbuat. Memanfaatkan hari-hari yang didapatkan saat ini dengan hal-hal yang baik. Memulai menanam benih disaat ini. Karena selama waktu saat ini masih didapatkan, dan karena paham bahwa saat ini adalah saat dimana berada didalamnya, berarti menjadi milik. Maka apa yang kita miliki disela-sela waktu yang tidak terlalu lama ini jangan diisi dengan mengingat kenangan-kenangan suram dimasa lalu. Cukuplah dia hilang bersama dengan hilangnya sang waktu. Pikirkanlah apa yang mesti dilakukan hari ini dengan menyemai benih kebaikan sebanyak-banyaknya. Juga jangan lupa untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok dengan ilmu. Karena ilmu dapat menjadi penolong atas kelemahan dan kekurangan dihari esok. Duri-duri yang menghalangi dapat terlewatkan dengan ilmu yang baik. Mudah-mudahan kenangan-kenangan buruk itu terlupakan dan diganti dengan kenangan baik yang akan dilewati hari ini. Seperti mereka yang telah menuai benih yang mereka tanam dahulu. Semoga bermanfaat
Diposting oleh
Arbin
di
23.44
0
komentar
Jangan Bersandar pada Dinding yang Retak
Apa yang terjadi jika kita bersandar pada dinding yang retak? Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yakni dinding akan roboh dan kita akan jatuh bersama jatuhnya tembok dan bisa jadi kita akan binasa dengan bersamaan dengan robohnya tembok itu. Demikian juga pisang tadi.
Kemungkinan juga yang akan terjadi jika dia tumbuh pada sebatang pohon yang akan hancur, maka buah dari pohon itu tidak akan bisa dinikmati karena di pasti akan roboh bersamaan dengan robohnya tempat sandarannya. (Kita abaikan cara lain. Ini hanyalah sebuah analogi untuk menggambarkan bagaimana jika sesuatu bersandar pada sesuatu yang akan hancur, pasti sesuatu itu akan hancur juga).
Analogi ini kemudian kita miripkan dengan fenomena kehidupan yang terkadang kita alami. Bersandar kepada sesuatu yang sesuatu itu tidak memberikan kontribusi apapun kepada kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Justru yang akan terjadi adalah penyesalan yang lambat laun akan menggerogoti jiwa dan berimbas pada kehancuran masa depan. Mari, kita lihat berbagai fenomena ini dengan kaca mata yang bersih. Dengan pandangan yang jauh lebih teliti dibanding dengan kesenangan sementara yang didapatkan. Bahwasanya, seorang perokok tidak akan bisa bersandar dengan rokoknya dalam menggapai kehidupan gemilang dimasa depan. Seorang pemalas tidak akan mendapatkan nikmatnya berilmu dimasa depan jika sifat malas menjadi sandaran hidupnya. Seorang pembangkang, tidak akan mendapatkan ketenangan jika sifatnya ini dijadikan sebagai sandaran dalam mengambil kesimpulan. Dan yang paling pokok adalah, orang yang bersandar kepada kesyirikan tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan didunia maupun diakhirat. Lambat laun, dia akan hancur secara pelan-pelan seiring dengan hancurnya kesyirikan yang dilakukannya.
Ujung dari sandaran ini adalah harapan. Sehingga kebanyakan manusia akibat hawa nafsunya menyandarkan setiap aktifitasnya kepada si makhluk. Padahal, sandaran manusia, hanyalah kepada Allah. Allah subhanahu wata'ala adalah tempat berharap. Bukan makhluk. Jika manusia menyandarkan kehidupannya kepada makhluk, maka tauhidnya masih sangat lemah. Masih sangat perlu untuk membersihkan diri dari noda-noda kesyirikan.
Jadi, bersandarlah kepada tauhid sebagai pondasi dari kehidupan. Bagaimana mungkin kita akan bisa membangun rumah diatas pondasi yang rusak. Tentu saja rumahnya juga akan cepat hancur.
Begitu sebaliknya, jika pondasi rumah kokoh, maka rumah itu akan bertahan lama.
Diposting oleh
Arbin
di
23.37
0
komentar
5.04.2009
Kesabaran itu, Demikian Indah
Sabar, sebuah kata yang singkat namun memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perjalanan kehidupan manusia. Lihatlah, budi pekerti sang kekasih Nabiyyullah Muhammad Shallallahu'alahi wasallam tatkala dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang sangat berat dalam perjalanan beliau dalam mengajarkan risalah islam ini. Beliau dihina, dicaci, dimaki dan dianggap majnun (gila) oleh orang-orang Quraisy saat itu, namun beliau tetap bersabar. Tidak membalas mereka dengan cacian atau makian yang serupa, namun justru yang beliau lakukan adalah senantiasa mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selainNya. Walaupun banyak orang Quraisy membenci apa yang beliau bawa.
Lihat pula kenyataan yang beliau dapatkan ketika mengajarkan risalah islam ini di negeri Thaif. Beliau tidak mendapatkan kenikmatan tatkala beliau disana. Yang terjadi malah sebaliknya.
Beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif sampai darah mengalir ditubuh beliau, namun lagi-lagi beliau tetap sabar dengannya. Rasulullah tidak emosi atau marah kepada mereka. Tidak ada secuilpun rasa dendam dalam jiwa beliau. Bahkan, ketika malaikat penjaga gunung meminta izin kepada beliau untuk menghancurkan Thaif dan penduduknya dengan meletuskan gunung yang ada di thaif, namun beliau justru menginginkan kalau sekiranya anak dan cucu mereka nanti akan menjadi orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala. Padahal, kalau beliau berdo'a kepada Allah niscaya do'anya akan dikabulkan oleh Allah. Namun beliau tetap sabar dengan kenyataan-kenyataan yang menimpanya saat itu.
Demikian pula kesabaran para sahabat dalam menghadapi gangguan dari musuh-musuh islam. Dalam sirah islam demikian banyak disebutkan tentang perjalanan hidup para sahabat rasulullah shallallahu'alahi wasallam yang mana mereka mendapatkan tantangan-tantangan yang begitu besar, namun mereka tetap sabar bersama dengan Rasulullah memperjuangkan islam dimuka bumi. Walaupun musuh-musuh islam tidak pernah berhenti membuat makar untuk menghancurkan mereka. Ternyata, buah kesabaran mereka adalah kejayaan Islam dan kejayaan diri-diri mereka. Islam menguasai lebih dari separoh dunia melalui tangan-tangan dan lisan mereka. Merekapun mendapatkan kejayaan diri-diri mereka dengan mendapatkan Jannah yang telah Allah subhanahu wata'ala janjikan kepada mereka.
Kisah-kisah tentang kesabaran para shalafushalehpun turut menghiasi sejarah. Lihatlah kesabaran mereka dalam menuntut ilmu ad-dien. Mereka demikian sabar dengan pencarian 'ilmu sampai-sampai sebagian dari mereka pingsan ditengah perjalanan dalam menuntut ilmu, bertahan dengan kondisi alam yang sangar, ditengah padang pasir yang luas dibawah terik matahari, mereka terus berjalan untuk mendapatkan ilmu. Ada yang belajar di jalan, mendekati cahaya lampu orang yang ronda, kitab-kitab yang mereka tulis lenyap terbakar, dibawah banjir bah, namun mereka tetap bersabar. Tidak tidur semalaman demi menghafal hadist, dan masih banyak lagi kisah-kisah kesabaran mereka dalam mencari ilmu. Sungguh perjuangan yang begitu berat telah mereka tempuh dan mereka telah memetik buahnya. Imbas dari kesabaran mereka tidak hanya dirasakan oleh mereka sendiri, melainkan manusia sampai hari inipun merasakan nikmatnya hasil kesabaran mereka. Buku-buku karangan mereka yang berjilid-jilid telah sampai kepada kita karena kesabaran mereka dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmunya tersebut.
Kenyataan sejarah yang telah mereka lewati ini membuat kita harus kagum akan kesabaran mereka. Tentunya, konsekuensi dari kekaguman terhadap mereka ini adalah kitapun harus mencontoh mereka dalam menghadapi setiap realita kehidupan yang menuntut kesabaran ini. Rasa heran juga mesti ada melihat kondisi umat yang lemah saat ini. Betapa nilai-nilai kesabaran sangat sedikit sekali tercermin dalam jiwa manusia akhir zaman ini, kecuali yang dirahmati oleh Allah. Akibat kurang sabarnya manusia saat ini, sehingga jalan-jalan pintas diambil untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Sikap tergesa-gesa menjadi pioner dalam melakukan pergerakan-pergerakan untuk meraih hasil. Dan ini banyak juga dilakoni oleh para aktivis dakwah dalam berjuang menegakan kalimatullah dimuka bumi. Hanya dengan ilmu yang sedikit dan dengan modal semangat yang tinggi, sebagian aktivis dakwah mengambil jalan-jalan pintas dalam mendapatkan kader. Karena mereka sadar bahwa banyaknya kader menunjukan kekuatan. Sehinga kadang-kadang cara yang dilakukan tanpa disadari adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Namun kadang juga mereka tidak peduli apakah cara mereka itu halal atau haram, baik atau buruk, membawa maslahat atau mudharat, bernilai ibadah atau tidak. Yang pasti, apa yang menurut akal pikiran baik, maka baik pula hasilnya. Padahal, berjuang dijalan Allah memiliki koridor. Memiliki aturan-aturan. Bukan dengan cara demonstrasi, mencaci pemerintah, terlibat dalam parlemen, sampai kadang terlena dalam parlemen, mengikuti kebiasan masyarakat dengan dalil agar mereka tidak lari dan cara-cara pintas lainnya. Sadarkah bahwa cara-cara yang tidak diridhai oleh Allah dalam memperjuangkan Agamanya tidak akan pernah berhasil? Bagaimana mungkin islam akan jaya dengan jalan yang bertentangan dengan aturan Allah dan Rasulnya? Bukankah cara batil itu mustahil dalam menegakan kalimat Allah? Percaya atau tidak, masa itu pasti akan tiba. Waktu akan menjawabnya. Bukan tipe-tipe seperti ini yang dapat merubah ideologi yang sesat. Agen-agen perubah ideologi harus bisa menerapkan terlebih dahulu ideologi islam yang benar dalam dalam diri dan jiwa mereka.
Yakinlah, ideologi kafir ini tidak bisa dirubah dengan modal semangat doang. Ideologi kafir ini akan lenyap dengan kuatnya nilai-nilai syar'i dalam diri-diri kaum muslimin. Dan nilai-nilai syar'i dapat diketahui dengan baik dan benar manakala setiap orang menunutut ilmu syar'i. Dan mendakwahkan ilmu yang didapatkan tersebut. Kemudian, ketaatan kepada Allah harus senantiasa ditingkatkan serta bersabar dalam menjalankan ketaatan tersebut. Juga menjahkan diri dari maksiat serta bersabar dalam menjauhi maksiat tersebut. Hanya orang yang bersabar dalam menuntut ilmu, beramal, dakwah dan bersabarlah yang dapat merasakan nikmatnya berjuang dijalan Allah. Entah itu dirasakan didunia kenikmatannya atau diakhirat. Waktu jualah yang menjawabnya. Karena Innallaha ma'ashabirin. “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” Bukan bersama orang-orang yang tergesa-gesa. Wallahu'alam bishawab.
Diposting oleh
Arbin
di
02.15
0
komentar
4.29.2009
Apa Manfaatnya Bagiku
Buku yang saya baca itu adalah Quantum Learning. Buku ini merupakan salah satu buku yang memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai metode-metode yang harus dilakukan dalam proses belajar. Metode yang diajarkan ini adalah metode yang sudah dapat dibuktikan secara langsung sehingga secara nyata. Apa yang disampaikan kepada pembaca buku ini dapat diibaratkan seperti sebuah tutorial yang pembaca dapat langsung mengaplikasikannya. Namun rupanya untuk hal seperti ini tidak semudah membaaikan telapak tangan. Metode-metode yang diajarkan membutuhkan keseriusan dan ketekunan untuk melakukannya. Orang yang tidak memiliki kesabaran yang tinggi akan kesusahan untuk menjalankan tutorial yang disampaikannya.
Diantara isi buku tersebut adalah apa yang biasa dikenal dengan istilah ambak. Apa manfaatnya bagiku?. Sebuah pertanyaan yang mesti dijawab oleh setiap orang yang melakukan aktivitas. Setiap orang yang ingin mencapai kesuksesan dalam memperbaiki jalan kehidupannya. Sebuah pertanyaan yang singkat, namun juga memberikan pengaruh yang besar buat mereka yang memahami akan urgensi pertanyaan ini. Apa manfaatnya bagiku tatkala saya melakukan ini atau itu? Pertanyaan ini jika dipahami dengan benar, maka setiap orang akan melewati hari-harinya dengan manfaat. Karena tatkala dihadapkan pada sebuah aktivitas, jiwa kembali bertanya “Kalau saya kerjakan ini, apakah akan memberikan manfaat bagiku”? “Apakah apa yang saya lakukan ini dapat menjamin kehidupanku lebih baik”? Kalau ia, maka sayapun harus bersemangat untuk mengerjakannya. Karena ada efek kabaikan yang akan didapatkan setelahnya. Namun jika pertanyaan ini rupanya menghasilkan jawaban tidak ada manfaat, maka orang tersebut akan meninggalkan perbuatan tersebut dan menggantikannya dengan sesuatu yang bermanfaat karena dia sadar bahwa tidak ada gunanya mempertahankan perbutan yang ternyata tidak memberikan manfaat. Tidak ada gunanya melewati hari-hari tanpa manfaat yang dihasilkan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Inilah konsekuensi dari pertanyaan Ambak (apa manfaatnya bagiku). Kehati-hatian dalam melakukan sesuatu akan nampak dalam diri mereka. Karena sadar bahwa melakukan sesuatu yang tidak memberi manfaat adalah sebuah kesia-siaan. Sedangkan melakukan sesuatu yang memberikan manfaat adalah sebuah keberuntungan. Hari-harinya terlewati dengan senantiasa bersemangat melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Demikian juga halnya dengan orang yang belajar. Orang yang menerapkan metode AMBAK ini dalam proses belajarnya akan menjadi sadar bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan. Dan belajar merupakan sesuatu yang wajib untuk dilaksanakan karena besarnya manfaat yang didapatkan oleh orang yang belajar. Sehingga dia akan senantiasa bersemangat untuk belajar. Seorang siswa IPS, dihadapkan pada keinginan untuk belajar mata pelajaran IPA. Nah,… Sebelum dia melakukannya, maka dia harus memunculkan pertanyaan dalam dirinya. Apa manfaatnya bagiku belajar IPA? Padahal IPA bukan bagian dari kebutuhan saya. Setelah dirinci sendiri akan manfaat atau tidaknya belajar IPA ini, maka siswa IPS ini kemudian mengambil kesimpulan bahwa daripada saya belajar IPA sementara pelajaran ini tidak muncul dalam ujian mata pelajaran IPS, maka lebih baik belajar akuntansi daripada IPA karena akuntansi merupakan mata pelajaran ujian. Demikian juga siswa IPA yang ingin belajar IPS harus mempertimbangkan akan manfaat atau tidak manfaatnya belajar IPS itu saat ini. Walaupun pelajaran-pelajaran ini semuanya berguna, namun dengan memperhatikan akan kebutuhan-kebutuhan saat ini, maka seorang pelajar yang baik lebih mendahulukan untuk menjalankan aktifitas yang dibutuhkan saat ini ketimbang aktifitas yang dibutuhkan dimasa yang akan datang. Orang yang belajar tidak akan rugi. Kecuali apa yang dipelajarinya adalah sesuatu yang mengarah kepada hal yang buruk. Namun kitapun mesti harus memperhatikan akan kebutuhan akan pelajaran itu disaat ini. Nah… Kalau misalnya kebutuhan saat ini sudah terpenuhi, maka menjalankan aktivitas belajar lain tidak jadi masalah asalkan aktivitas itupun memberikan manfaat baginya.Ini merupakan sebuah contoh sederhana yang menguraikan seputar masalah AMBAK dalam kehidupan anak sekolahan. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita arahkan semisal terkait dengan masalah pertimbangan akan kemanfaatan (maslahat dan mudharat) dalam setiap perjalanan kehidupan setiap manusia.
Ada satu hal yang rupanya saat ini kurang dimiliki oleh kebanyakan orang dinegeri ini. Buktinya adalah banyak orang disekitar kita yang sulit untuk menerima kenyataan yang mereka dapatkan. Ketika mereka mendapatkan masalah yang membuat mereka harus menelan kepahitan dengannya, rupanya banyak yang stress. Sebagian lagi sampai pada tahap gila akibat kepahitan yang mereka dapatkan. Padahal, apa yang mereka lakukan itu adalah bagian dari apa yang telah rencanakan. Bahkan perencanaan yang sangat matang. Kalau tidak matang perencanaan dan pertimbangannya, tentu saja mereka tidak akan berani untuk melakukan apa yang mereka rencanakan itu. Contoh misalnya adalah banyaknya para calon legislatif saat ini yang stress akibat tidak lolos menuju kursi legislatif. Bahkan sampai pada tahap bunuh diri akibat kenyataan pahit yang mereka dapatkan. Bukankah ini akibat dari ketidakpuasan dan ketidak beranian untuk menerima kenyataan yang ada? Maka orang yang seperti ini disebabkan karena apa yang mereka rencanakan dan ingin mereka lakukan tidak mempertimbangkan AMBAK. Kalau sekiranya mereka mempertimbangkan masalah Ambak ini, tentu saja mereka tidak akan sampai pada tahap stress bahkan bunuh diri ini. Ini adalah fenomena yang terjadi ketika tidak ada kesiapan diri untuk menerima kenyataan. Berapa banyak manusia didunia ini yang sangat pusing ketika mendapatkan kenyataan-kenyataan yang tidak baik. Berapa banyak manusia yang bunuh diri karena kenyataan pahit. Di Jepang, demikian banyak orang yang bunuh diri (harakiri) setiap tahun karena ketidaksiapan diri menerima kepahitan hidup. Demikian juga di negeri ini, sudah berapa banyak orang yang bunuh diri akibat kenyataan pahit yang menimpa mereka.
Diposting oleh
Arbin
di
23.26
0
komentar
4.28.2009
Bentuk Serangan Musuh Islam
Musuh-musuh Islam, tidak akan pernah berhenti untuk menyerang dan menghansurkan kaum muslimin sampai kaum muslimin itu masuk kedalam ajaran mereka. Atau kalau tidak masuk dalam ajaran mereka, maka penindasan secara fisik akan senantiasa dilakukan oleh mereka yang memusuhi ad-dien Islam ini. Yakni dari kalangan yahudi dan nashrani. Sebagaimana ha ini telah di firmankan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam al Qur’an
Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
Firman Allah ini memberikan gambaran kepada kita kaum muslimin bahwa musuh-musuh islam dari kalangan Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah berhenti untuk melakukan penyerangan kepada kaum muslimin. Mereka tidak akan pernah puas untuk melakukan invasi-invasi kepada kaum muslimin walaupun mereka telah mengetahui bahwasanya mereka tidak akan pernah sanggup untuk menghancurkan Islam, seberapa besarpun kekuatan mereka. Dan mereka akan terus berusaha untuk melakukan aksinya tersebut sampai akhir zaman. Alhasil, usaha-usaha yang mereka lakukan itu memberikan hasil yang cukup memilukan dimana banyak kaum muslimin saat ini tertipu dengan apa yang mereka bawa. Telah berapa banyak kaum muslimin yang murtad akibat serangan mereka tersebut. Telah berapa banyak pula nyawa kaum muslimin yang melayang akibat kebiadaban dan kebengisan mereka tersebut. Dengan bangga mereka melakukan semua ini, sementara disisi lain mereka menyebarkan isu-isu kontroversional yang pada hakikatnya sesungguhnya adalah untuk menyerang kaum muslimin itu sendiri. Berbagai isu-isu internasional telah mereka telorkan yang bertujuan untuk menurunkan citra islam dan kaum muslimin didunia pada umumnya. Dan isu-isu yang mereka kemukakan baik lewat media
- Penyerangan dari sisi Agama
- Penyerangan dari sisi ekonomi
- Penyerangan dari sisi Militer
- Penyerangan terhadap Otak (Pemikiran kaum Muslimin)
Diposting oleh
Arbin
di
17.40
0
komentar
Label: Pemikiran
Kisah Ashabul Ukhdud
"Ada seorang raja yang hidup pada masa sebelum kalian, dia mempunyai seorang ahli sihir. Ketika usia ahli sihir menginjak masa tua, dia berkata kepada raja.
"Sesungguhnya saya telah memasuki masa tua, maka utuslah salah seorang anak muda kepadaku untuk saya ajarkan kepadanya sihir"
Maka diutuslah seorang anak muda untuk belajar sihir kepadanya. Dan dalam perjalanan menuju rumah ahli sihir, pemuda itu melewati tempat tinggal seorang rahib. Maka diapun duduk ditempat itu untuk mendengarkan pembicaraan sang rahib. Sehingga setiap kali pemuda itu menuju rumah ahli sihir, dia pasti melewati tempat tinggal sang rahib dan dan duduk didalamnya untuk mendengarkan nasehat sang rahib.
Akibatnya, dia terlambat datang ketempat ahli sihir dan mendapatkan hukuman. Maka anak muda itu mengadukan peristiwa yang menimpanya kepada sang rahib. Sang rahib berkata,: “Jika engkau ditanya sebab keterlambatanmu dan takut dipukul tukang sihir, katakan saja padanya, “Aku terlambat karena urusan keluargaku”. Dan jika kamu khawatir dengan keluargamu, maka katakanlah, “Aku terlambat karena belajar dengan tukang sihir”.
Kejadian itu terus berlangsung, sampai suatu hari sang pemuda berhadapan dengan seekor binatang melata besar yang menghalangi jalan manusia. Berkata pemuda itu,:
"Hari ini aku akan mengetahui apakah perintah tukang sihir atau sang rahib yang lebih utama”. Setelah itu ia mengambil batu dan berkata berkata, “Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada tukang sihir maka matikanlah binatang ini, sehingga manusia dapat berjalan kembali”.
Selanjutnya anak muda itu melempar binatang buas dengan menggunakan batu yang dia pegang dan terbunuhlah binatang itu. Kemudian pemuda itu menemui rahib dan menceritakan seluruh peristiwa yang dia alami. Maka berkata sang Rahib :
"Wahai anakku, hari ini engkau telah mendapatkan keutamaan melebihi diriku. Aku telah melihat peristiwa besar yang menimpamu, dan sesungguhnya engkau akan menemui ujian iman. Maka apabila engkau mendapatkan ujian dan siksaan yang berat, maka janganlah engkau sebutkan diriku."
Dikemudian hari, anak muda itu mampu menyembuhkan orang-orang yang mengalami kebutaan sejak lahir dan orang-orang yang mengalami penyakit sopak, serta menyembuhkan semua penyakit yang diderita oleh penduduk. Peristiwa ini didengar oleh salah seorang teman akrab raja. Orang itu mengalami kebutaan dan kemudian mendatangi sang pemuda dan membawa berbagai macam hadiah. Dia berkata kepada sang pemuda:
"Semua hadiah ini akan aku berikan kepadamu, apabila engkau berhasi menyembuhkan penyakitku".
Sang pemuda menjawab:
"Sesungguhnya aku tidak mampu menyembuhkan seorang manusia pun. Akan tetapi Allah sajalah yang memberikan kesembuhan. Maka apabila engkau beriman kepada Allah, aku akan memohon KepadaNya agar memberikan kesembuhan kepadamu."
Selanjutnya, teman akrab raja itupun beriman kepada Allah dan diberikan olehNya kesembuhan. Dan kemudian dia segera menghadap sang raja sebagaimana biasa.
"Siapakah yang mampu menyembuhkan penglihatanmu?" Tanya sang raja.
Orang itu menjawab:
"Rabb Sang Penciptaku yang telah mengembalikan penglihatanku".
"Apakah engkau meyakini ada Rabb Sang Pencipta selain diriku?" Tanya sang raja
Lelaki itu menjawab:
"Rabb penciptaku dan penciptamu adalah Allah saja".
Mendengar jawaban itu, sang raja segera menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sehingga terpaksa orang itu menceritakan perihal anak muda (yang mampu menyembuhkan penyakitnya-red). Sehingga sang pemuda dibawa menghadap sang raja, maka bertanyalah sang raja kepadanya:
"Wahai anakku, apakah kemampuan sihirmu sangat hebat, sehingga engkau mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan menyembuhkan sopak serta penyakit-penyakit lain?"
Anak muda itu berkata:
"Aku tidak mampu memberikan kesembuhan kepada seorangpun, akan tetapi yang memberikan kesembuhan itu hanyalah Allah saja".
Mendengar jawaban itu, sang raja segera menangkap dan terus-menerus menyiksanya sehingga sang pemuda terpaksa menceritakan perihal rahib (yang telah mengajarkan keimanan kepada Allah-red). Maka, didatangkanlah sang rahib dan diperintahkan kepadanya,
“Keluarlah dari agamamu.” Si rahib menolak.
Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua.
Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan dikatakan kepadanya:
“Keluarlah kamu dari keyakinanmu.”
Pemuda itu menolak. sehingga dia diserahkan kepada prajuritnya kemudian berkata kepada mereka:
“Bawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas.”
Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemudapun berdoa:
“Ya Allah, jagalah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendakMu”
Seketika gunung itu bergetar dan merekapun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui sang raja. Raja itu berkata:
“Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda:
“Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata:
“Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.”
Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi:
“Ya Allah, jagalah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendakMu” Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.
Raja itu berkata:
“Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda:
“Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”
Lalu si pemuda melanjutkan:
“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”
Kata si pemuda: “Kau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah busur lalu ucapkanlah: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya niscaya engkau akan dapat membunuhku.”
Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata:
“Bismillahi Rabbil ghulam”,
Kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu dan diapun tewas. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata:
“Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”
Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya:
“Apakah anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).”
Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata:
“Siapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau: ceburkan ke dalamnya).”
Para prajurit pun menjalankan perintah sang Raja. Sehingga terdapat seorang wanita yang digiring di pinggir parit, sedangkan dia menggendong anak yang masih kecil. Ketika sampai diparit, dia merasa ragu untuk menyeburkan diri kedalamnya. Maka tiba-tiba sang anak berkata kepada ibunya:
"Wahai Ibunda, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada diatas keyakinan yang benar.
(Hadits shahih riwayat Imam Muslim. Kitabuz Zuhd war Raqaaiq no: 5327)
Postingan ini saya kutip di www.asysyariah.com dan buku yang berjudul; Setangguh Pribadi Nabi.
Diposting oleh
Arbin
di
17.15
0
komentar
Label: Kisah Islam
