About Me
- Arbin
- Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia
- Tidak akan pernah tahu, hal yang belum kita tahu manakala kita tidak mau tahu apa yang kita tidak tahu tersebut.
Google Translate
Pesan Anda
My Facebook
Friends
-
Harga Verile Acne Blemish Cream Terbaru7 tahun yang lalu
-
Read Quran in Uthmani Script Online13 tahun yang lalu
-
Kesuksesan13 tahun yang lalu
-
-
Blog Belajar
9.12.2009
Ide Dadakan yang Menggelikkan
Diposting oleh
Arbin
di
22.31
0
komentar
Label: pengalaman, unek-unek Pemikiran
8.31.2009
Fenomena Amplop Ceramah
Bagi para fakir miskin, dibulan ramadhan ini mereka mendapatkan karunia-karunia yang tidak mereka dapatkan diluar bulan ramadhan. Mereka banyak mendapatkan santunan dari para dermawan yang tidak mereka dapatkan diluar bulan ramadhan. Para dermawan pun berlomba-lomba untuk mendermakan harta mereka karena mereka mengetahui keutamaan berderma dibulan ramadhan. Beramai-ramai membantu pembangunan mesjid, memberi makan orang yang berpuasa, membantu para janda, fakir miskin, anak jalanan dan orang-orang yang membutuhkan santunan lainnya. Demikian juga halnya dengan para pencari rejeki. Mereka kemudian menjadikan momen bulan ramadhan ini dengan berjualan kue, es buah, roti, kelapa muda, dan jualan-jualan lain yang dapat menghasilkan uang. Maka benarlah bahwa bulan ramadhan merupakan bulan rahmat seluruhnya.
Diposting oleh
Arbin
di
22.18
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
Minimnya Minat untuk Belajar
Refleksi Dari Pemantauan saat Pulang Kampung
Sepekan setelah ujian Skripsi, saya memutuskan untuk Pulang Kampung dan Pembukaan Puasa disana setelah sekitar 5 tahun tidak bersama orang tua pada pembukaan puasa. Perjalanan ke kampung saya harus melewati dilewati dengan rute menyeberang lautan. Jadi sebanyak 2 kali melewati lautan ketika ke kampung saya. Dari Kendari ke Raha, menggunakan kapal Cepat Super-Jet dengan waktu tempuh sekitar 3 jam lebih. Biaya tiket cukup mahal, yaknin Rp. 90.000,-. Kemudian Rute Raha-Koholifano menggunakan Kapal Motor Kambo-Kamboi yang perjalanannya ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Sebenarnya, saat ini kampung saya adalah Pola, karena Orang Tua pindah tugas di Pola. Akan tetapi, Koholifano akan terus tetap menjadi kampung saya karena disanalah tempat kelahiran saya.
Karena kepulangan saya adalah hari jum'at, maka perjalanan ke kampung harus menunggu kapal sore. Sekitar pukul 15 kurang, saya menuju ke pelabuhan tempat bersandar kapal Motor Kambo-Kamboi. Angin bertiup cukup kencang dihari itu, namun tidak mengurungkan niat untuk Pulang Kampung.
Sekitar pukul 5.30 Wita, saya sampai di kampung saya, Koholifano. Sebuah pulau kecil yang berbentuk seperti lingkaran dengan diameter sekitar 1 km. Hasil perhitungan manual saya, ketika dulu waktu masih sering ke pulau ini, jumlah keluarga yang menghuninya sekitar 200 lebih KK. Cukup banyak memang penduduknya. Itupun yang masih bertahan disana. Kalau terhitung dengan yang sedang merantau kenegeri orang, cukup banyak. Karena dikelilingi oleh pulau, mayoritas penduduk dikampung ini adalah nelayan. Sebagian lagi ada yang berprofesi sebagai petani. Namun kebanyakan penduduknya lebih memilih mencari penghasilan di negeri orang. Tersebar dimana-mana. Di Pulau Irian, mereka disana berprofesi sebagai nelayan. Di Malaysia, berprofesi sebagai tukang Batu. Di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan daerah2 lain. Biasanya, pada saat Lebaran Idul Fitri kampung ini sangat ramai. Penduduk Asli kampung ini yang bermukim di negeri lain biasanya pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga.
Kapal motor yang saya tumpangi bersandar di bagian Barat pulau. Padahal rumah saya ada di bagian utara. Jaraknya lebih kurang 800-900 meter. Belum diukur soalnya. Hanya sebatas prediksi. Perjalanan menuju rumah kerumah, pasti melewati rumah Nenek (Orang tua Mama). Sebelum sampai kerumah, maka saya dan adik (yang kebetulan dari Pola) singgah di rumah nenek. Kebetulan sang nenek sedang mempersiapkan untuk "di baca-baca" seperti yang biasa dilakukan ketika pembukaan puasa. Menyalami sang Kakek yang sudah sangat tua, kemudian menikmati makanan yang disediakan oleh nenek. Sebiji lapa-lapa dan sepotong ayam. Cukup Nikmat. Setelah selesai makan, dan berbincang-bincang sekilas dengan Paman dan Nenek, saya dan Adik berjalan menuju rumah. Waktu sudah mendakti maghrib ketika sampai dirumah. Sang Mama rupanya telah lama menantikan kedatangan saya. Maka sayapun menyalami sang mama kemudian menanyakan keadaan dirumah. Rupanya, dirumah juga makanan untuk pembukaan puasa.
Kembali ke inti cerita
Pada setiap tahunnya, beberapa pelajar dikampung saya menamatkan pendidikan SMAnya. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Kalaupun ada, paling hany seorang atau 2 orang. Demikian halnya tahun ini. Sempat bertemu dengan sebagian dari mereka. Kenyataan ini membuat meningkatnya angka pengangguran di kampung. Para pelajar yang telah menamatkan pendidikan SMAnya lebih memilih untuk tinggal di kampung atau merantau kenegeri tetangga mencari penghasilan. Tentu saja, sedikitnya jumlah orang sekolahan dikampung ini berimbas kepada berbagai aspek kehidupan. Tatanan sosial kemasyarakatan menjadi kurang bagus.
KAlau dilihat dari kemampuan ekonomi, sebenarnya beberapa orang tua dapat menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi. Akan tetapi, minat untuk terus belajar itu sangat kurang. Jangankan untuk belajar, membaca saja adalah hal yang langka. Tentu saja, kurangnya minat untuk belajar ini menyebabkan merosotnya generasi masa depan. Imbasnya adalah rusaknya tatanan nilai-nilai kehudupan diberbagai bidang. Dari sisi ekonomi, tentu saja akan kurang kreatifitas untuk dapat mendapatkan ide-ide bagaimana mendapatkan penghasilan. Penyakit sosial kemasyarakatan akan muncul bukan hanya dimasa kini tetapi juga dimasa yang akan datang. Ini sebagian sudah nampak.
Melihat kondisi yang lemah dari sisi pendidikan ini, tentu harus dipikirkan solusi bagaimana menumbuhkan minat masyarakat untuk terus belajar. Pihak pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi bahkan pemerintah pusat harus mencarikan solusi agar masyarakat paham akan pentingnya Menuntut ilmu. Dengan ini, peluang untuk menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya belajar akan nampak. Mereka kemungkinan besar tidak menyekolahkan anaknya karena tidak menyadari akan pentingnya. Biasanya, sesuatu yang kita tidak ketahui menjadikan kita tidak perduli dengan dampak yang dihasilkannya. Para pemuda juga harus paham bahwa belajar tidak berakhir sampai dibangku SMA. Harus ada kesadaran dalam jiwa akan pentingnya dan pengaruhnya berilmu. Kalaupun tidak mampu untuk menyadarkan dengan cara seperti ini, paling tidak usaha itu telah dilakukan. Dan usaha untuk melakukan perubahan itu adalah niat yang baik. Dan semoga, apa yang terbetik dalam benak ini kelak dapat memberi guna kepada masyarakat. Semoga ide yang terkubur di benak saya ini bisa terealisasi dalam waktu yang tidak lama lagi. Semoga bisa. Doakan wahai saudaraku, agar aku dapat memberi bakti.
Diposting oleh
Arbin
di
01.09
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
8.18.2009
Perjalanan Di hari Ahad, 16-8-2009
LANJUTAN
Perjalanan menuju pulau Bokori bukanlah perjalanan yang gampang, disamping harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan jalanan yang rusak dan berlobang, juga harus menyebrangi lautan. Bagi sebagian ikhwan, menyebrangi lautan dengan menggunakan katinting (perahu kecil dengan menggunakan mesin) adalah hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Untuk melakukannya, tentu saja perasaan was-was itu tetap saja ada. Khawatir jangan sampai perahunya terbalik atau tenggelam di tengah lautan. Apalagi jika kondisi laut yang sedang bergelombang. Namun bagi sebagian yang lain, menyeberangi lautan dengan menggunakan perahu adalah hal biasa yang sering dilakukan.
Perjalanan dari pantai (lupa namanya) sebenarnya cukup singkat. Hanya beberapa menit saja. Namun tentu saja menjadi seperti cukup lama karena harus menunggu sebagian ikhwan untuk berkumpul karena harus beberapa kali diambil oleh perahu yang kami tumpangi. (Tidak muat satu kali perjalanan). Sambil menunggu teman-teman lain nyampe, saya bersama teman-teman bermain bola, sambil mandi. Masya Allah, begitu segar ketika menceburkan diri didalam laut, di pantai yang dipenuhi oleh pasir putih. Subhanallah, Allah maha Indah. Allah menciptakan sesuatu yang indah dimuka bumi untuk menyedapkan pandangan manusia. Manusia yang juga menjadi fitrahnya untuk mencintai keindahan. Dan menyaksikan pantai yang indah, merupakan anugrah tersendiri bagi manusia.
Sebenarnya, mandi di laut merupakan kebiasaan ketika masih di kampung. Rumah saya dekat pantai. Akan tetapi, tentu saja suasanya berbeda antara mandi dikampung dan di sini (pulau bokori). Kenikmatan yang lebih dibandingkan dengan dikampung. Pasir yang indah, tidak didapatkan dikampung. Yang ada hanyalah batu-batu cadas, juga batu-batu karang yang sudah hampir punah. Selain itu, kenikmatan tersendiri juga diperoleh karena bersama teman-teman yang semanhaj. Saudara-saudara yang senantiasa mengingatkan dikala sedang berada dalam kesia-siaan. Berkumpul bersama ikhwan, memang memberikan kenikmatan tersendiri yang tidak diperoleh pada teman-teman di kampung dan saudara-saudara dirumah.
Teman-teman mempunyai kesibukan yang berbeda dipulau ini. Ada yang memancing ikan, ada yang main bola, ada yang mandi, ada yang memasak dan ada juga yang hanya berdiri menyaksikan ikhwan lain yang sedang asyik menikmati aktivitasnya. Aktivitas yang berbeda ini terus berlangsung sampai masuk waktu zhuhur. Semua aktifitas berhenti tatkala azan berkumandang. Ditengah gemuruh ombak, dalam nuansa yang indah kami melaksanakan shalat dengan keadaan yang berbeda ketika dimasjid. Ada yang memakai sendal, ada yang beralaskan pasir, maksudnya tak beralas, dan ada juga yang masih basah. Namun, bukan basah kuyup.
Selesai melaksanakan shalat, kami berkumpul bersama untuk merealisasikan tujuan utama dari rihlah ini, yakni konsolidasi pengurus. Banyak hal yang diutarakan oleh Ustadz terkait dengan perkembangan dakwah ini. Kendala-kendala yang dihadapi, serta solusi2 yang harus diambil dalam menyikapi dinamika kelebagaan.
Mudah-mudahan kebersamaan ini terus berlanjut sampai pada ketentuan Allah. Semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit-penyakit yang berbahaya seperti penyakit futur.
Wahai Saudaraku, Uhibbukumfillah. Doakan agar ana tetap istiqomah dalam menjalani hidup ini ditengah arus dan gelombang kehidupan yang berbahaya dan dapat menghanyutkan pelayaran menuju tujuan kehidupan.
Diposting oleh
Arbin
di
14.51
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
8.17.2009
Perjalanan di hari Ahad
Ahad, 16 Agustus 2009
Kembali, pagi mulai datang. Membangunkan manusia untuk beraktivitas seperti biasanya. Manusia kembali dituntut untuk mengikuti alur perjalanan hari. Entah hari itu terlewatkan dengan santai, dengan serius maupun dengan biasa-biasa saja. Yang pasti, pagi telah datang dan pagi hari ini pasti tidak sama dengan pagi kemarin. Begitulah hari-hari berganti.
Suasana pagi di kota kendari, terutama di sekitar kampus cukup cerah. Sinar matahari pagi yang biasa menemani perjalanan dipagi hari, yang biasa memancarkan cahayanya dipagi hari, yang kadang disambut dengan ceria cahayanya oleh mereka yang aktivitas hari-harinya sebagai pedagang, sebagai siswa maupun mahasiswa, bahkan sebagian para pegawai kantoran karena mereka tidak akan kehujanan menuju lokasi mereka melaksanakan kewajibannya terhalang oleh awan kumulus. Karena hari ini adalah hari libur, maka aktivitas sebagian orangpun menjadi tidak sesibuk hari biasanya. Para pegawai kantoran tidak lagi menuju kantor untuk melaksanakan tugasnya, para mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah semester pendek tentu saja tidak kekampus, terlebih lagi para pelajar SD, SMP dan SMA. Hari libur adalah hari yang menyenangkan buat kaum pelajar. Dimana mereka mulai pagi sampai sore bahkan malam hari bisa berkumpul ria bersama teman-teman, terlebih lagi bersama keluarga. Namun, pagi ini adalah hari yang beda dengan kami, yang tergabung dengan Ormas. Karena hari ini ada rencana rihlah (rekreasi) yang dirangkaikan dengan konsolidasi pengurus. Kebanyakan dari pengurus pasti pagi ini dilewati dengan mempersiapkan hal-hal yang perlu dibawah ditempat rekreasi, yang Loaksinya cukup jauh dari Kota Kendari.
Hal yang sama, tentu saja terjadi pada saya. Seusai sarapan pagi, saya pamit sama saudara bahwa hari ini saya akan pergi rekreasi bersama teman-teman di sebuah pulau yang bernama BOKORI. Melangkahkan kaki, melewati rumah-rumah bagus nan indah disekitar BTN tempat saya tinggal ditemani dengan bayang-bayang pemikiran yang senantiasa menemani langkah kaki walau terkadang pemikiran itu aneh, namun semua bermula dari inspirasi-inspirasi tak bermutu. Mungkin. Entahlah, kadang otak ini senantiasa berpikir tentang hal-hal aneh yang mungkin belum pernah dipikirkan orang lain. Kadang-kadang pemikiran itu benar setelah ditimbang dengan akal sehat yang jitu dan kadang pemikiran itu salah ketika dilakukan dengan terburu-buru. Walau sekali lagi, relatif. Namun tak apalah. Yang pasti saya bukanlah tipe orang yang membiarkan pemikiran ini kaku.
Kembali kealur cerita....!
Jarak antara rumah dengan Markas, tempat start menuju lokasi sekitar 1,5 km. Memilih berjalan kaki karena suasana pagi adalah suasana yang indah untuk berolahraga. Walaupun perjalanan pagi saya tidak bisa dikatakan olahraga, namun itu sudah cukup bagi saya untuk menghilangkan rasa ngantuk yang masih menyerang dipagi hari karena malam harinya tidur sekitar pukul 2 dini hari. Sekitar beberapa puluh meter kaki melangkah, rupanya ada seorang ikhwah yang berhenti disamping saya dan mengajak untuk bonceng dikendaraanya. Dengan senang hati, kuterima tawaran itu. Beberapa menit kemudian, sampailah saya di tempat dimana start menuju lokasi berada. Rupanya, baru beberapa ikhwan yang datang. Dan Alhamdulillah, saya tidak terlambat. Beberapa aktivitas berlangsung sebelum perjalanan dimulai. Mulai dari kembali ke kamar lama untuk mengambil pakaian mandi, membeli roti dan minuman untuk bekal serta hal-hal lain yang tidak terlalu penting untuk di muat dipostingan ini.
Sekitar pukul 07.40, mobil Kijang yang saya tumpangi mulai berjalan perlahan-lahan. Ditemani dengan deru-deru kendaraan lain yang lalu lalang menjalankan aktivitasnya.
Bersambung...
Diposting oleh
Arbin
di
02.05
0
komentar
Label: unek-unek Pemikiran
7.11.2009
Sederhana belum Tentu Menurut Semua Orang
Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan informasi bahwa Pelatihan sepertinya akan diundur karena peserta masih sangat sedikit. Apalagi rencana kegiatan itu adalah sehari setelah Pemilihan Presiden RI. Tentu saja, akan sangat sulit untuk mendapatkan peserta sesuai dengan yang ditargetkan.
Mendengar informasi ini, akhirnya jadwal pembuatan handoutpun menjadi tertunda. Sibuk dengan aktivitas lain walau aktifitas itu sederhana. Padahal, informasi lain yang saya peroleh dari panitia bahwa handout paling tidak masuk kepanitia untuk di perbanyak adalah dua hari sebelum acara dimulai. Karena saya tidak mendapatkan kejelasan waktu dari panitia, maka saya belum membuat materi itu. Namun karena sebuah tuntunan, maka materi itu dibuat 2 hari sebelum acara dimulai.
Rupanya, panitia memiliki cara tersendiri untuk menggaet peserta. Alhasil, peserta kegiatan pelatihan itu sekitar 40 orang lebih. Sehari sebelum acara dimulai, saya mendapatkan pesan singkat dari panitia (SMS) bahwa mereka akan bertemu dengan pada malam hari. Saya tidak menjawab pesan itu karena saya tidak memiliki pulsa. Sore harinya saya menuju ke kampus karena ada seorang teman yang meminta tolong untuk dibuatkan sebuah web sederhana dengan menggunakan software eXe. Dan ternyata, anggapan saya tentang web yang sangat sederhana itu merupakan sebuah kesalahan karena sesederhana apapun itu, jika tidak dibuat tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan ini berarti teman tidak akan mendapatkan nilai ujian final.
Malam harinya, saya bertemu dengan panitia. Setelah mendapatkan laporan kenyataan yang ada beberapa saat, panitia mengatakan bahwa untuk kami (dari kalangan mahasiswa dan senior) yang mendapatkan materi dijadwal sebelumnya akan dijadikan sebagai pendamping. Mendampingi materi dari Bapak dan Ibu Dosen yang tentu saja sudah bergelar Master dan bahkan ada seorang Doktor. Menanggapi masalah ini, maka saya mengatakan jikalau itu kenyataanya, maka tak apa-apa. Cerita tentang materipun berlanjut sampai pada sebuah informasi bahwa panitia belum mengkonfirmasi salah seorang pemateri tentang kesediaanya. Kebetulan, materinya sama dengan materi saya sebelumnya. Panitia mengatakan, jikalau pemateri tidak bersedia, maka antum (saya) sebagai penggantinya. Malam itu, kami mencoba menghubungi pemateri dan ternyata beliau sedang berada dikampung. Akhirnya, kesimpulan yang ada bahwa materi untuk microsoft Word adalah saya.
Pada malam harinya, tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan karena ketika sampai dirumah ternyata Laptop kesayangan sedang dibawa oleh sang adik ke kamar temannya. Tapi tak masalah karena materi yang akan diajarkan sudah sering dilakukan. Rencana untuk cepat tidur karena lelah rupanya tidak jadi karena bercerita lewat SMS dengan seorang teman sampai pukul 1 malam. Lumayan, sampe larut.
Esok harinya, pikiran ini sudah mulai terganggu karena pemikiran akan sederhananya materi yang akan saya sampaikan. Apakah materi ini merupakan materi yang baru buat peserta ataukah mereka sudah terbiasa melakukannya? lantas bagaimana kira-kira jadinya ketika ternyata peserta lebih banyak tahu tentang materi dan akan mengatakan kalau pematerinya tidak berbobot?.
Sekitar pukul 09.30, materipun dimulai. Materi-materi yang kami buat adalah materi yang sangat sederhana karena bagi mereka yang telah lama bergaul dengan komputer bukanlah sesuatu yang asing. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi bukanlah seperti apa yang pernah saya bayangkan. Betapa tidak, ternyata masih banyak diantara peserta yang masih harus benar-benar diarahkan karena mereka tidak mengetahuinya. Sampai beberapa saat lamanya, ternyata mereka benar-benar harus bertanya tentang apa yang harus dilakukan walaupun sudah cukup dijelaskan materinya dengan jelas. Sampai materi berakhir, pertanyaan-pertanyaan itu terus berlanjut.
Ternyata, banyak hal yang dianggap sederhana belum tentu itu adalah sesuatu yang sederhana karena anggapan sederhana menurut seseorang belum tentu itu adalah hal yang sederhana menurut orang lain.
Diposting oleh
Arbin
di
00.47
0
komentar
Label: Pemikiran
5.06.2009
Tipe-Tipe Teman
Hadits yang mulia ini, memberikan petunjuk kepada manusia bagaimana dia itu berteman. Anjuran agar seorang muslim memperhatikan pergaulannya kepada manusia yang lain. Karena teman itu, sangat memberikan pengaruh kepada pergaulan seseorang. Seseorang, yang memiliki agama yang bagus atau tidak bagus itu sangat erat hubungannya dengan kepada siapa dia berteman. Jika dia berteman dengan orang yang baik agamanya, niscaya dia juga akan baik agamanya. Sebaliknya, jika dia berteman dengan orang yang memiliki agama yag buruk, maka kemungkinan dia memiliki agama yang buruk itu sangat besar. Hal ini juga telah digambarkan oleh rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dimana Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap.'' (HR Bukhari).
Keterangan-keterangan yang cukup lugas dan jelas dari Rasulullah ini tentu saja memberikan pelajaran yang cukup besar kepada kita untuk selektif dalam memilih atau mencari seorang teman. Sehingga kita akan terhindar dari hal-hal yang buruk akibat pengaruh teman yang buruk dan mendapatkan manfaat dari hasil pertemanan dengan orang yang baik.
Adapun, tipe teman itu ada tiga:
1. Teman seperti udara.
Oksigen, tidak lepas dari kehidupan manusia. Selalu ada entah itu kita butuhkan atau tidak kita butuhkan. Sehingga, dalam setiap langkah kehidupannya, detik atau menit atau jamnya, tidak lepas dari kebutuhan akan udara. Apabila tidak ada udara, maka dia bisa mati. Demikian jugalah dalam berteman. Sebaik-baik teman adalah seorang yang selalu ada dalam keseharian dan setiap langkah-langkah kita entah itu kita butuhkan atau tidak kita butuhkan. Dia selalu menyampaikan kebaikan kepada kita. Dia tidak pernah berhenti untuk mengingatkan kita agar menjauhi kemaksiatan. Dia selalu mengajak kita untuk selalu berada dalam koridor-koridor yang telah ditetapkan oleh Allah. Keberadaanya selalu membawa kebaikan dan manfaat dunia akhirat buat kita sebagaimana udara yang kita hirup selalu kita butuhkan. Jauh darinya juga merupakan sebuah musibah.
2. Teman seperti Obat
Sebagaimana obat, kita butuhkan tatkala kita mendapatkan penyakit. Dia datang tatkala kita membutuhkannya. Jika kita tidak mengkonsumsi obat itu, maka kemungkinan besar penyakit akan parah itu ada. Demikian jugalah teman seperti obat. Dia selalu ada manakala kita membutuhkannya. Keberadaannya disisi membawa kabaikan kepada kita. Teman yang baik adalah tatkala kita meminta nasehat kepadanya maka dia memberikan nasehat itu. Dia menjadi penyejuk jiwa dengan untaian-untaian nasehatnya tatkala kita membutuhkan.
3. Teman seperti Penyakit
Sebagaimana penyakit, penyakit adalah sesuatu yang tidak kita butuhkan. Keberadaannya membawa sengsara. Membuat badan tidak bisa bergerak. Demikian juga tipe teman yang buruk. Dia seperti penyakit. Keberadaannya disekitar membuat kita rusak dan hancur. Tidak ada kebaikan yang dibawanya. Yang ada hanyalah maksiat. Kita berada disisinya, tidak bisa lepas dari maksiat yang dilakukannya. Kitapun dapat terjerumus kepada kemaksiatan yang dibawanya.
Itulah tipe-tipe teman. Tinggal kemudian intropeksi diri, saat ini kepada siapa kita berteman. Orang yang baik atau orang yang buruk. Dan juga kita intropeksi diri tatkala kita berteman, tipe seperti apakah kita didalamnya? Apakah kita seperti udara, seperti obat atau seperti penyakit.
Diposting oleh
Arbin
di
23.47
0
komentar
Label: Kata Hati
Sekarang Jam
Blog Archive
Recent Post
Situs Islam
-
-
Daftar nama-nama Maba Ma'had Aly al-wahdah tahun akademik 2009-201016 tahun yang lalu
-
-
-
-
-
-
-
-
